Ilustrasi - - Foto: Medcom/ Bagus Suryo
Ilustrasi - - Foto: Medcom/ Bagus Suryo

Industri Minta FABA Dihapuskan dari Daftar Limbah B3

Ekonomi apindo pengolahan limbah
Antara • 18 Juni 2020 15:00
Jakarta: Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meminta pemerintah menghapuskan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) atau limbah padat dari daftar limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Pasalnya, hasil dari proses pembakaran batu bara pada pembangkit listrik tenaga uap PLTU, boiler, dan tungku industri tersebut bukan merupakan limbah B3.
 
"Sebanyak 16 asosiasi di Apindo sepakat mengusulkan penghapusan FABA, karena berdasarkan hasil uji pun menyatakan bahwa FABA bukan merupakan limbah B3," kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Apindo Haryadi B. Sukamdani dikutipAntara, Kamis, 18 Juni 2020.
 
Haryadi menjelaskan FABA yang dihasilkan berkisar antara 10 juta-15 juta ton per tahun masih dikategorikan sebagai limbah B3. Padahal FABA memenuhi baku mutu atau ambang batas persyaratan yang tercantum dalam PP Nomor 101 Tahun 2014.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dari hasil uji karakteristik dari industri menunjukkan bahwa FABA dikategorikan sebagai limbah non B3, seperti halnya di beberapa negara, antara lain Amerika Serikat, Tiongkok, India, Jepang, dan Vietnam," ujarnya.
 
Direktur Eksekutif APKI Liana Bratasida menambahkan tingkat pemanfaatan FABA di Indonesia masih tergolong sangat kecil, yaitu hanya 0-0,96 persen untuk fly ash dan 0,05-1,98 persen untuk pemanfaatan bottom ash.
 
FABA, lanjutnya, bisa dimanfaatkan sebagai conblock, pengganti semen, paving block, maupun campuran untuk konstruksi.
 
"Pemerintah sering menggaungkankegiatan pengelolaan limbah melalui kegiatan pemanfaatan memiliki hierarki yang lebih tinggi dari pada kegiatan pemusnahan dan pengolahan, serta penimbunan," kata Linda.
 
Di beberapa negara, FABA telah dimanfaatkan sebagai material konstruksi seperti untuk campuran semen dalam pembangunan jalan, jembatan, dan timbunan, reklamasi bekas tambang, serta untuk sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.
 
"Tingkat pemanfaatan FABA di negara-negara itu sudah cukup tinggi, berkisar antara 44,8-86 persen," ujar Liana.
 
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah mengeluarkan Peraturan Menteri LHK Nomor 10 Tahun 2020 tentang Tata Cara Uji Karakteristik dan Penetapan Status Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, dan telah diundangkan pada 4 Mei 2020.
 
Namun, beleid tersebut disusun tanpa melibatkan pelaku kegiatan usaha/industri, sehingga sulit untuk diimplementasikan di lapangan dan juga pengecualian limbah B3 dari Pengelolaan Limbah B3 tidak sesuai dengan tujuan diterbitkannya Permen itu sendiri.
 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif