Ilustrasi PLTS. Medcom.id/Annisa Ayu
Ilustrasi PLTS. Medcom.id/Annisa Ayu

Pemanfaatan PLTS Atap di Sektor Komersial dan Industri Capai 65,87 MW

Eko Nordiansyah • 14 September 2022 06:25
Jakarta: Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM mencatat, sektor komersial dan industri turut berkontribusi dalam kenaikan kapasitas terpasang instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap. Dari hanya 1,52 MW pada 2018 menjadi 65,87 MW pada Juli 2022.
 
Adanya tuntutan pasar akan produk hijau (green product) dan industri hijau (green industry) mendorong sektor komersial dan industri untuk beralih ke teknologi yang ramah lingkungan. PLTS Atap dinilai menjadi pilihan yang strategis karena waktu instalasinya yang relatif cepat, tidak membutuhkan lahan yang luas, serta ketersediaan sumber energi surya yang merata di seluruh Indonesia.
 
Direktur Aneka Energi Baru dan Terbarukan Kementerian ESDM Andriah Feby Misna mengatakan, pemerintah melalui Kementerian ESDM siap mendukung sektor industri dan komersial untuk mulai memanfaatkan energi terbarukan, salah satunya melalui instalasi PLTS Atap. Terlebih penggunaan PLTS Atap juga lebih ramah lingkungan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Sektor industri dan bisnis menjadi sektor yang potensial untuk mempercepat penetrasi energi terbarukan, terlebih kini persaingan pasar global sudah bergeser ke produk energi hijau (green product) yang lebih ramah lingkungan," kata dia dalam peringatan Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap (GNSSA) ke-5, Rabu, 14 September 2022.
 
Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Fabby Tumiwa mengungkapkan, penggunaan energi terbarukan harus dipertimbangkan sejalan dengan usaha mencapai tujuan net zero emission dan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang isu keberlanjutan (sustainability).
 
"Penggunaan PLTS, khususnya PLTS Atap merupakan cara tercepat dan termurah untuk diadopsi oleh sektor industri. Kami tentu akan terus mendukung berbagai kebijakan yang berpihak pada pengembangan EBT agar target bauran energi terbarukan sebesar 23 persen pada tahun 2025 dapat terwujud secara lebih terencana dan sistematis," ujar dia.
 
Tidak hanya perusahaan global, perusahaan lokal dari berbagai jenis latar belakang bisnis juga semakin banyak yang mulai mengembangkan industri hijau melalui penggunaan listrik tenaga matahari. Seperti yang telah dilakukan oleh pelanggan Xurya dalam menggunakan energi dari PLTS Atap dalam kegiatan operasionalnya.
 
"Kolaborasi dan sinergi dari berbagai pihak perlu dilakukan untuk memacu penggunaan PLTS Atap untuk bangunan industri dan komersial. Kami selaku pengembang proyek PLTS Atap telah memberikan penawaran instalasi PLTS Atap tanpa investasi, sehingga sektor komersial dan industri kini tidak perlu mengeluarkan investasi apapun untuk beralih ke energi bersih," kata Managing Director Xurya Eka Himawan.
 
Dalam rangka memperingati GNSSA ke-5, beberapa pelaku bisnis di sektor komersial dan industri melakukan penandatanganan dukungan GNSSA sebagai bentuk komitmen mereka dalam penggunaan bersih, seperti yang dilakukan oleh PT Avia Avian Tbk,  PT Agung Podomoro Land Tbk, PT Alkindo Mitra Raya, PT Arwana Citramulia Tbk, PT Bumimulia Indah Lestari, PT Bungasari Flour Mills Indonesia, PT Chemco Harapan Nusantara.
 
Kemudian PT East West Seed Indonesia (EWINDO), PT Frina Lestari Nusantara, PT Heinz ABC Indonesia, PT Jaya Abadi Corak Biscuit, PT Pan Brothers Tbk, PT Mukti Panel Industri, PT Sariguna Primatirta Tbk, PT Serena Indopangan Industri, PT Suryacipta Swadaya, PT Tata Metal Lestari, PT Trigunung Padutama, PT Tansri Gani, PT Uni-Charm Indonesia Tbk, PT. Wahana Makmur Sejati, Santika Palembang & Banyuwangi.
 
(END)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif