Ilustrasi energi terbarukan, PLTS. Foto: dok PLN.
Ilustrasi energi terbarukan, PLTS. Foto: dok PLN.

Pacu EBT, Komisi VII DPR Dorong Nuklir Tak Jadi Opsi Terakhir

Ekonomi nuklir Energi Terbarukan Indonesia Green Summit 2021 Green Summit
Suci Sedya Utami • 27 Juli 2021 06:32
Jakarta: Komisi VII DPR RI mendorong pemanfaatan nuklir sebagai energi listrik serta untuk meningkatkan porsi bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) di Tanah Air.
 
Ketua Komisi VII Sugeng Suparwoto mengatakan ia mengakui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) saat ini masih menjadi pro-kontra.
 
Ia bilang, banyak orang yang masih khawatir dengan aspek keamanan. Namun dengan teknologi tingkat empat yang sudah lebih maju, dirinya yakin pemanfaatan nuklir tidak akan menjadi pilihan terakhir.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Soekarno (mantan Presiden RI) pernah bilang kalau kita mau maju, maka kuasailah teknologi nuklir. Beberapa waktu lalu nuklir menjadi pilihan terakhir, sekarang tidak lagi pilihan terakhir kalau memang feasible secara harga dan proses politik kita sedang mendorog kapasitas 200 megawatt dan sebagainya," ujar Sugeng, dalam acara Media Group News Summit Series bertajuk Indonesia Green Summit 2021, Senin, 26 Juli 2021.
 
Hal senada juga pernah disampaikan mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini. Rudi menilai nuklir menjadi alternatif potensial yang bisa digunakan untuk menopang kebutuhan energi Tanah Air yang makin meningkat.
 
Menurut Rudi nuklir memiliki sumber energi yang besar. Ia bilang satu gram nuklir dalam bentuk thorium setara dengan satu ton batu bara. Ditambah lagi, kata Rudi, nuklir merupakan energi bersih karena tidak mengeluarkan karbon dioksida (CO2) yang mengotori lingkungan dan menyebabkan emisi gas buang rumah kaca.
 
"Bandingkan berapa batu bara mengeluarkan kotoran dengan CO2-nya? Sedangkan nuklir enggak ada yang dikeluarkan CO2-nya. Suka tidak suka nuklir harus masuk," ucap Rudi.
 
Ia bilang efek buruk atau kecelakaan kerja saat menggunakan nuklir sebagai energi bahkan lebih rendah dibanding jika menggunakan minyak dan gas yang kasusnya telah menelan banyak korban di dunia.
 
"Sebetulnya nuklir sangat sedikit, ada di Jepang maupun di Rusia itu hanya jumlahnya case meninggal dibanding yang terjadi di migas itu jauh (lebih besar). Begitu juga dibandingkan masalah kecelakaan lainnya. Jadi sudahlah, bukan masalah ketakutan. Indonesia sudah tertinggal karena masalah mindset ketakutan," tutur Rudi.
 
Rudi menambahkan sudah saatnya Indonesia untuk menggunakan nuklir sebagai sumber energi masa depan. Lagi pula tidak perlu membangun kapasitas PLTN yang besar-besar. Ia mengatakan cukup PLTN mini yang dibangun di setiap provinsi.
 
Sementara itu, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan pemerintah belum memprioritaskan pembangunan PLTN. Pemerintah lebih memprioritaskan untuk mengembangkan sumber energi baru terbarukan lainnya yang masih berlimpah. Artinya PLTN menjadi opsi terakhir.
 
Ia bilang, Indonesia memiliki semua sumber energi baru terbarukan, salah satunya yang dari di bawah tanah yakni berupa panas bumi. Sebagai salah satu negara dengan jumlah gunung api terbanyak, membuat potensi panas bumi yang dimiliki Indonesia menjadi yang terbesar di dunia.
 
Kemudian Indonesia juga memiliki sumber energi air, biomassa, angin, hingga matahari. Apalagi sebagai negara tropis, Indonesia merupakan negara yang dilewati sinar matahari dengan intensitas tinggi. Rida bilang semua sumber energi tersebut masih banyak yang belum didayagunakan.
 
"Ada pemikiran kalau nuklir masuk takutnya anugerah sumber energi itu enggak termanfaatkan. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, pemerintah menempatkan nuklir jadi pilihan terakhir," jelas Rida.
 
(AHL)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif