Mentan menyayangkan pemda yang tidak teliti mencantumkan alsintan yang sebenarnya dibutuhkan di daerahnya. Beberapa kali, pemda salah menyebutkan ukuran dan komposisi alsintan. Akibatnya, setelah bantuan alsintan tiba, malah tidak bisa digunakan.
"Ini pernah terjadi di Sumatera. Kita kirim barang. Ketika tiba barangnya, ternyata spec-nya (spesifikasinya) tidak cocok. Aku tanya, yang minta sapa? Bapak kalau kirim proposal tolong hati-hati," ujar Mentan Amran dalam sambutannya membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Pertanian Nasional Tahun 2016 di Kantor Pusat Kementan, Jakarta Selatan, Selasa (31/5/2016).
Kesalahan serupa pun pernah terjadi Bali. Saat bantuan handtraktor dikirim, ternyata handtraktor tersebut tidak bisa digunakan karena lahannya sempit.
"Handtraktor harus dipikul terlebih dahulu, baru bisa dipotong. Karena lahannya 1 meter, susah sekali belok. Akhirnya, butuh pemotong rumput untuk memotong sisa padi," ujar Amran.
Di Kalimantan juga pernah terjadi hal demikian. Kementan memberikan bantuan handtraktor, namun pemerintah setempat mengatakan bahwa daerahnya hanya membutuhkan pintu air. Lucunya, ketika handtraktor tersebut ditarik lagi oleh Kementan, Pemda Kalimantan malah meminta handtraktor.
"Ini namanya butuh semua. Tolong, kalau kirim proposal jangan asal," kata Amran mengingatkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News