Lion Air. MI/Amiruddin.
Lion Air. MI/Amiruddin.

Pegawai Kemenkeu Korban Lion Air Dapat Santunan dan Kenaikan Pangkat

Ekonomi Lion Air Jatuh
Eko Nordiansyah • 14 November 2018 17:49
Jakarta: Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memastikan pegawainya yang menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT610 rute Jakarta-Pangkal Pinang akan mendapatkan santunan. Selain itu, para korban juga akan mendapatkan kenaikan pangkat dari jabatan terakhirnya.
 
"Saat ini juga terus lakukan percepatan pengurusan hak-hak kepegawaian dari pegawai yang terkena musibah, terkait santunan dan tunjangan, serta pengangkatan pangkat anumertanya," kata Sekretaris Jendral Kementerian Keuangan, Hadiyanto di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta Pusat, Rabu, 14 November 2018.
 
Dirinya menambahkan, penyerahan santunan akan dilakukan setelah adanya surat keputusan dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) terkait status tewas dari para pegawai Kemenkeu. Tercatat ada 21 orang pegawai Kemenkeu, dari berbagai direktorat jenderal yang menjadi korban Lion Air.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untuk kenaikan pangkat, diberikan sebagai penghargaan kepada para korban yang menjalankan tugas sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Rencananya para korban akan mendapatkan kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi dari pangkat yang dimiliki oleh pegawai tersebut.
 
Hadiyanto merinci santunan yang akan diterima keluarga korban akan dihitung berdasarkan santunan kematian kerja yakni 60 persen dikali 80 dikali gaji terakhir yang dibayarkan sekaligus. Keluarga juga mendapatkan uang duka tewas enam kali gaji terakhir, serta biaya pemakaman.
 
Bagi korban yang memiliki anak usia sekolah juga akan mendapatkan beasiswa untuk dua orang anak. Untuk SD sebesar Rp45 juta, SMP Rp35 juta, SMA Rp25 juta, Pendidikan Tinggi Rp15 juta dengan syarat maksimum usia 25 tahun, belum menikah, dan belum bekejra.
 
Sementara itu, ada tambahan santunan berupa gaji terusan enam kali gaji terakhir. Pegawai yang meninggalkan suami/istri/anak akan mendapatkan 75 persen dari gaji terakhir, sedangkan korban yang meninggalkan orang tua akan mendapatkan 20 persen dari gaji terakhir.
 
"Kami juga berikan pendampingan psikolog kepada keluarga korban, karena takutnya shock dan lain-lain, jadi butuh pendampingan agar bisa recovery secara psikologis, sehingga bisa berinteraksi lagi dengan masyarakat dan bisa menerima musibah," pungkasnya.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif