Merpati Belum Siap Mengudara
Merpati. MI/Paco Amalo.
Jakarta: Keinginan maskapai bermerek Merpati Airlines untuk kembali mengudara berada pada timing yang salah. Sebab, risiko memulai bisnis penerbangan ditengah gejolak ekonomi global cukup tinggi.

Pengamat penerbangan, Arista, mengungkapkan 70 persen belanja penerbangan di Indonesia menggunakan dolar Amerika Serikat (AS). Sementara kurs rupiah cenderung belum stabil sehingga biaya sewa pesawat, belanja ban, dan mesin akan lebih mahal.

"Kalau Merpati masuk sekarang ini timingnya kurang menggembirakan, untuk bisnis penerbangan itu ada ancaman karena sebagian besar menggunakan mata uang dolar AS," katanya saat dihubungi Medcom.id di Jakarta, Rabu, 14 November 2018.

Selain itu, bisnis penerbangan masih dibayangi oleh harga avtur yang mahal. Apalagi sumber daya manusia atau karyawan Merpati telah dirumahkan. Hal ini akan membutuhkan waktu lama bagi merpati untuk merekrut tenaga baru.

"Kalau di Indonesia timur itu pemainnya engga banyak paling Wings Air. Dan dia bisa memanfaatkan peluang itu," imbuhnya.

Di sisi lain, jalan Merpati untuk terbang kembali masih panjang. Mengingat mitra strategisnya, yakni PT Intra Asia Corpora harus mendapat persetujuan pembelian saham dari Kementerian Keuangan, Kementerian BUMN dan DPR RI. Sebab, 100 persen saham BUMN penerbangan itu dimiliki oleh pemerintah.

"Harus persetujuan Kemenkeu dan DPR jadi memang jalannya masih panjang dan timingnya kurang tepat," tegasnya.

Sebelumnya, Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Jawa Timur memutuskan PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) tidak pailit atau tetap bisa mengudara. Namun, Kementerian Keuangan menangguhkan usulan restrukturisasi yang diajukan oleh maskapai pelat merah itu.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menuturkan pihaknya belum melihat adanya investor yang kredibel untuk memberikan suntikan dana ke Merpati. Padahal restrukturisasi BUMN penerbangan ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah ke perekonomian.

"Kalau seandainya mereka memiliki modalitas yang kredibel kita siap mendukung secara baik," kata Ani sapaan akrabnya ditemui di Gedung Dhanapala, Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin, 12 November 2018.


 



(SAW)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id