Ilustrasi seorang petani sedang menanam ubi jalar di ladangnya. (Foto: MI/ Panca Syukrani)
Ilustrasi seorang petani sedang menanam ubi jalar di ladangnya. (Foto: MI/ Panca Syukrani)

Lahan Tidur Bisa Dimanfaatkan untuk Produksi Ubi Jalar

Ekonomi industri makanan
Eko Nordiansyah • 30 Agustus 2019 23:05
Jakarta: Pemanfaatan ubi jalar sebagai bahan pangan alternatif bisa digenjot dengan memaksimalkan lahan tidur ataupun hasil pembagian lahan oleh pemerintah. Selain itu, ubi jalar juga berpotensi sebagai bahan industri pangan yang memiliki nilai ekonomi seperti saus tomat.
 
Pemerintah telah menggulirkan program Reforma Agraria selama periode pertama Presiden Joko Widodo. Bahkan, pada 2019 ini, pemerintah ditarget telah melepaskan lahan sebanyak 4,4 juta hektar, dengan patokan target sebesar 9 juta hektar pada periode setelahnya.
 
Namun demikian, program redistribusi lahan itu kerapkali tak memberikan efek ekonomi bagi para petani maupun perbaikan rantai pasok pangan. Sebabnya, lahan hasil redistribusi tak jarang kembali menjadi lahan tidur, ataupun dicaplok usaha properti hingga pertambangan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di sisi lain, Indonesia selalu berkutat dengan isu rentannya ketahanan pangan nasional. Seharusnya, lewat program redistribusi lahan tersebut, terjadi peningkatan produktivitas komoditas pertanian.
 
Pakar Teknologi Pangan Universitas Sahid Giyatmi Irianto, penguatan sektor pangan, tak melulu menggubah lahan jadi pertanian padi. Sebab, banyak tanaman pangan alternatif yang lebih mudah digarap dan memiliki potensi ekonomi lebih besar.
 
"Sebagai bahan pangan, ubi jalar tentu makanan pokok alternatif. Selain itu ubi jalar bisa diolah sebagai bahan baku industri, khususnya subtitusi bahan impor," ungkap Giyatmi dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 30 Agustus 2019.
 
Saat ini, ubi jalar marak digunakan pelaku industri pangan olahan, terutama saus tomat.
 
“Mereka mensubtitusi tomat yang kadang juga diimpor, dengan ubi jalar karena pasokan lebih stabil. Selain itu, ternyata konsumen lebih memilih saus tomat dengan bahan subtitusi ubi jalar ini,” terang Giyatmi.
 
Industri saus tomat baik domestik maupun impor terus bertumbuh. Merujuk Database Comtrade PBB, ekspor kecap tomat dan saus tomat lainnya di seluruh dunia mencapai USD1,69 miliar pada 2013.
 
Di sisi lain, persaingan domestik produk saus tomat memang berlangsung ketat. Produsen multinasional seperti Heinz, Unilever, dan Delmonte saling sikut memperebutkan pasar sempit saus tomat.
 
Heinz yang dikenal dengan Heinz ABC Indonesia hadir setelah mengakuisisi dan menyisakan saham 35% ABC Central Foods, Unilever telah menjajal bisnis saus setelah memperkenalkan merek Jawara pada tahun lalu.
 
Sedangkan Delmonte International pun tercatat sebagai pemain bisnis saus tomat di Indonesia sejak hampir sedekade lalu.
 
Saus ABC dan Delmonte bersaing ketat sebagai penguasa pasar saus tomat di Tanah Air. Delmonte, sebagaimana informasi yang dihimpun, meneken kontrak produksi dengan PT Lasallefood Indonesia.
 
Uniknya, keunggulan itu tak terlepas dari tangan dingin Ipung Kurnia pihak di balik layar Lasallefood Indonesia, yakni PT Suba Indah yang notabene merupakan bagian lini produksi PT ABC Central Foods.
 
Delmonte seolah berhasil bertransformasi dari ABC Central Foods. Terlebih lagi, duel klasik antara Saus ABC dan Delmonte ini melibatkan sosok adik ipar Ipung yang pernah sukses membawa ABC Central Foods merajai pasar pangan olahan Tanah Air.
 

(EKO)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif