"Suku bunga BI akan berada di 5,75 persen tahun ini dan tahun depan jadi 6,5 persen," kata Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan di Plaza Mandiri, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis, 30 Agustus 2018.
Kenaikan suku bunga BI tak lepas dari kondisi rupiah yang masih tertekan oleh dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan bank sentral AS, the Fed, juga diperkirakan masih akan menaikkan suku bunganya untuk tahun ini sampai dengan tahun depan.
"Kalau kami lihat dari FFR, perkiraannya 3,25 persen, tahun ini 2,5 persen, tahun depan kelihatannya masih naik tiga kali lagi. Kalau di luar 2,75 persen, nanti di dalam 5,75 persen, bedanya masih 300 bps. Begitu pula dengan tahun depan, bedanya masih jauh," jelasnya.
Dirinya menambahkan, salah satu faktor pendorong kenaikan suku bunga adalah inflasi yang diprediksi meningkat. Tahun ini inflasi diperkirakan berada pada level 3,6 persen, sedangkan tahun depan inflasi diperkirakan kembali meningkat hingga 4,5 persen.
Menurut Anton, kenaikan inflasi disebabkan oleh naiknya harga minyak dunia yang harusnya diikuti oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Selain itu, ada potensi kenaikan harga pangan yang bisa memengaruhi inflasi.
"Harga minyak jelas sejak pertengahan tahun lalu itu bergerak cepat. Lalu, ada pengaruh dari wholesale indeks, itu proxi inflasi yang dirasakan produsen, di mana harga bahan baku itu lebih tinggi inflasinya daripada CPI (indeks inflasi konsumen)," pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News