Milenial Gandrungi Produk Finansial
Ilustrasi. (FOTO: Media Indonesia)
Jakarta: Sentuhan teknologi digital pada produk-produk finansial ternyata mendorong generasi milenial untuk tidak lagi sungkan mengakses produk-produk tersebut. Mulai produk pinjaman sampai asuransi yang bahkan bagi banyak kalangan acap masih dipersepsikan sebagai hal yang tidak penting-penting amat.

Sebagai contoh, berdasarkan data asuransi digital Jaga Diri, dari total 12 ribuan nasabah asuransi Jaga Diri, sekitar 59 persen usia generasi milenial antara 21 dan 35 tahun. Sisanya, 34 persen, usia 36 sampai 50 tahun, dan delapan persen usia di atas 50 tahun.

"Memang kita cukup surprised begitu melihat datanya lebih banyak konsumen yang mendaftar adalah milenial. Lalu kami berpikir, trennya sudah bergeser. Milenial juga tertarik dengan produk asuransi," ujar Chief Marketing Officer Jaga Diri Yuda Wirawan di Jakarta, akhir pekan lalu.

Jika dibandingkan dengan asuransi konvensional yang masih mengandalkan agen untuk mendaftar dan bahkan relatif mahal, jelasnya, asuransi digital memang tidak perlu proses panjang dan berbelit. Kunjungi website, pilih asuransi yang sesuai, lalu bayar.

"Bayarnya pun bisa pakai kartu kredit, VA, atau ke depan bisa juga lewat Alfamart, Indomaret, dan sebagainya. Seperti supermarket yang serbaada. Jadi, orang enggak perlu ke mana-mana," kata Yuda.

Oleh sebab itu, lanjutnya, Jaga Diri akan mengusung strategi untuk lebih banyak menggaet nasabah dari kalangan generasi milenial. Salah satu caranya ialah menghadirkan produk kekinian yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan. Semisal, empat produk asuransi inovatif terbaru dari Jaga Diri, yaitu Jaga Sehat Pilihanku, Jaga Sehat Tropis, Jaga Senyumku, dan Jaga Liburan. Produk-produk itu diharapkan mampu menghimpun lebih banyak nasabah hingga mencapai target 50 ribu.

CEO of PT Central Asia Financial Reginald J Hamdani menambahkan, selama kuartal I-2018, ada peningkatan permintaan quotation atau data yang masuk ke website Jaga Diri sebesar 124 persen. Lebih dari setengahnya ialah generasi milenial. Faktor penjualan produk asuransi via daring itulah yang menurutnya membuat generasi yang lebih familier dengan internet tersebut tertarik. "Melalui edukasi terus-menerus, kami yakin tren asuransi digital akan makin berkembang dan tentunya dominasi nasabah oleh kaum milenial," pungkasnya.

Intuitif

Modalku, start-up pinjaman berbasis teknologi informasi alias peer to peer (P2P) lending, mencatat 50 ribu orang telah terdaftar sebagai pemberi pinjaman per pertengahan April silam. Survei Modalku menunjukkan, hampir 70 persen dari pemberi pinjaman yang aktif berasal dari generasi milenial.

Digital Marketing Director Modalku Alexander Christian mengatakan hal itu menunjukkan daya tarik teknologi finansial (tekfin) bagi generasi muda, utamanya mereka yang dibesarkan di era digital.

"Secara intuitif, generasi muda mencari layanan keuangan yang praktis dan user-friendly. Salah satu inovasi kami adalah fitur Pendanaan Otomatis, di situ pemberi pinjaman dapat mengatur tipe pendanaan sesuai preferensi masing-masing, juga tingkat pengembalian, jangka pinjaman, serta alokasi dana per pinjaman," jelasnya.

Lewat layanan pasar digital Modalku, aktivitas pendanaan pun cukup via ponsel pintar. Hingga saat ini Modalku telah berkontribusi bersih bagi pemberi pinjaman di Indonesia lebih dari Rp50 miliar, dengan tingkat default di bawah satu persen. Sementara itu, penyaluran pinjaman via Modalku bagi UMKM di Tanah Air telah mencapai Rp920 miliar dari total Rp1,67 triliun di Asia Tenggara. (Media Indonesia)

 



(AHL)