Dengan begitu, secara umum dampak kenaikan suku bunga The Fed dan BI rate terhadap mereka tidak akan terlalu besar.
"Kenaikan suku bunga acuan The Fed (The Federal Reserve), bank sentral AS, kali ini memang sudah diprediksi dan begitu pun BI rate (suku bunga acuan BI) yang langsung dinaikkan menjadi 5,75 persen," ungkap Wakil Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani melalui pesan singkat di Jakarta, akhir pekan lalu.
Seperti dikutip dari Antara, Minggu, 30 September 2018, Shinta menyampaikan beberapa pelaku usaha dalam mengenakan harga barang mereka untuk stok barang baru sudah menetapkan harga dengan menghitung segala potensi kenaikan untuk beberapa bulan ke depan.
Selanjutnya, dengan outlook kebijakan The Fed yang mungkin masih naik dengan risiko yang tidak setinggi sebelumnya, pengusaha berharap pemerintah responsif dan tidak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang kontraproduktif. "Apalagi, kondisi kita sekarang ini sebenarnya sudah cukup kuat," ungkap Shinta.
Menurut Shinta, risiko terbesar dari pelemahan rupiah datang karena sentimen pasar. "Pelemahan akan ada, tetapi saya yakin tidak akan sebesar dua bulan ini karena pemerintah dan pengusaha sudah lebih siap," ujarnya.
Banyak dari pengusaha juga sudah melakukan hedging atau lindung nilai untuk utang mereka dan mengatur stok secara lebih cermat untuk meminimalkan risiko.
"Strategi lain seperti efisiensi saya lihat tidak akan terlalu ekstrem karena daya beli masih di dalam kisaran yang aman," pungkas Shinta.
Efisiensi
Senada dengan dia, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman menjamin penaikan suku bunga acuan BI tidak berimbas pada kenaikan harga produk usaha makanan dan minuman. Namun, industri makanan dan minuman skala besar diperkirakan akan menaikkan harga jual produksi pada awal 2019.
"Perkiraan saya, industri makanan minuman skala besar akan menaikkan harga pada awal 2019," ungkap Adhi, kemarin.
Adi mengatakan dengan penaikan suku bunga acuan BI, para pengusaha memang memrasakan dampaknya yang berat. Itu termasuk ikut naiknya bunga pinjaman yang menambah beban para pengusaha.
Namun, saat ini Adhi mengaku para pengusaha masih bertahan. Siasat mereka ialah melakukan efisiensi dengan berbagai cara. "Misalnya mengurangi beban biaya di sektor lain seperti biaya marketing," katanya.
Sebelumnya, BI menaikkan suku bunga acuan 7-day reverse repo rate untuk kelima kalinya pada tahun ini menjadi 5,75 persen. Langkah pengetatan itu dilakukan satu hari setelah penaikan suku bunga acuan The Federal Reserve pada Rabu (26/9) waktu AS.
Dengan penaikan suku bunga acuan tersebut, suku bunga penyimpanan dana perbankan di BI (deposit facility) juga naik 25 bps menjadi lima persen. Suku bunga penyediaan likuiditas dari BI ke perbankan (lending facility) juga naik 25 bps menjadi 6,5 persen. (Media Indonesia)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News