Menurut dia, jika pengembangan teknologi didasarkan pada research and development, maka setelah penelitian dilakukan hanya menghasilkan paper. Sementara jika berdasarkan kebutuhan, maka hasil dari pengembangan teknologi bisa langsung dimanfaatkan oleh industri yang membutuhkan.
"Di dunia lain enggak begitu lagi, R&D itu keluar dari kebutuhan industri baru ditarik ke belakang. Ada enggak technology development yang teknologinya belum ada? Ada. Untuk itu saya berharap memulai research dari kebutuhan industri," ujar dia di PT Teknologi Rekayasa Katup, Jalan Raya Serang-Jakarta KM 39,5, Serang, Banten, Selasa 15 Agustus 2017.
Dirinya menambahkan, ada teknologi yang mungkin hanya dibutuhkan oleh Indonesia sehingga tidak dihasilkan negara lain. Hal ini mendorong produsen lokal untuk bisa menyediakan produk yang bisa berguna untuk menunjang industri yang sudah ada.
"Misal yang jadi masalah di Sumatera itu untuk mengalirkan listrik dari Lampung ke Aceh harus pakai tower tegangan tinggi. Tapi ini masyarakat banyak yang menggergaji tower itu. Makanya kita butuh teknologi tower anti gergaji, di Amerika itu enggak ada, di Eropa juga enggak ada makanya itu hanya kita yang butuhkan," jelas dia.
Sementara itu, di industri minyak dan gas (migas) di dalam negeri juga membutuhkan teknologi yang mungkin belum ada di negara lain. Misalnya untuk mencegah pengeboran horisontal (horizontal drilling) yang dilakukan oleh masyarakat secara ilegal untuk mengambil hasil migas di perusahaan tertentu.
"Kebanyakan pipa horizontal drilling, kebanyakan pipa kita ada masyarakat yang suka pipanya di-drill. Mungkin di Amerika sana enggak ada, sehingga teknologi horizontal drilling enggak ada. Saya enggak tahu ada enggak teknologi untuk cegah itu, tapi ada enggak di negara maju? Enggak ada," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News