NEWSTICKER
Ilustrasi: Medcom.id
Ilustrasi: Medcom.id

Survei: Kondisi Kerja Media dan Industri Kreatif Buruk

Ekonomi tenaga kerja industri kreatif jurnalis
Theofilus Ifan Sucipto • 15 Februari 2020 20:27
Jakarta: Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (Sindikasi) menemukan kondisi kerja di kedua sektor tersebut memprihatinkan. Hasil survei menunjukkan hak dasar pekerja masih ada yang belum diberikan.
 
Kondisi terbilang buruk ini dapat dilihat dari hasil survei yang menunjukkan sebanyak 40,5 persen responden mengaku bekerja lebih dari delapan jam sehari. Lantas yang bekerja delapan jam sehari hanya 19 persen.
 
"Lebih dari 82,1 persen responden mengaku tidak pernah mendapat uang lembur," ujar Kepala Riset Sindikasi Fathimah Fildzah Izzati dalam sebuah diskusi di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu 15 Februari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hal itu bertentangan dengan Pasal 78 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Dalam UU itu, waktu kerja yang diizinkan delapan jam sehari atau 40 jam dalam satu minggu. Regulasi itu mengatur pekerja tidak boleh lembur lebih dari tiga jam dalam satu hari atau 14 jam dalam satu minggu.
 
Selain itu, Izzati menyebut sebanyak 51,2 responden mengaku beban kerja tidak sesuai dengan perjanjian kerja. Artinya, pekerja kerap mengerjakan tugas yang tidak dibayar.
 
Sebanyak 52,4 persen responden mengaku pernah mengalami kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Mulai dari stres, cemas, dan kurang tidur.
 
"54,7 persen responden mengaku tidak dapat ganti biaya kecelakaan kerja dari kantornya," tutur Izzati.
 
Survei: Kondisi Kerja Media dan Industri Kreatif Buruk
Kepala Riset Sindikasi Fathimah Fildzah Izzati (kiri). Foto: Medcom.id/Theofilus Ifan Sucipto
 
Sebanyak 38,1 persen responden juga mengaku lingkungan kerja tidak aman dari pelecehan seksual. Kondisi itu dinilai memengaruhi persepsi responden terhadap relasi kerja mereka sendiri.
 
"Kondisi-kondisi ini semestinya direspons cepat dengan pendekatan inovatif terutama dari pembuat kebijakan," pungkas Izzati.
 
Responden survei adalah 84 anggota Sindikasi yang bekerja di berbagai sektor. Mulai dari insan pers, aplikasi dan teknologi, penelitian, hingga desain dan komunikasi visual.
 
Survei dilakukan pada 20 hingga 30 Januari 2020. Pertanyaan yang diajukan adalah formulasi pengalaman Sindikasi bekerja di bidang advokasi, regulasi ketenagakerjaan, dan riset Sindikasi sebelumnya.
 

(SUR)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif