Ilustrasi. Foto: dok MI.
Ilustrasi. Foto: dok MI.

Ekspor RI ke AS Bisa Turun 2,5%

Ekonomi indonesia-as Negara Berkembang
Eko Nordiansyah • 28 Februari 2020 13:16
Jakarta: Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memperkirakan ekspor Indonesia ke Amerika Serikat bisa menurun hingga 2,5 persen. Hal ini sebagaimana dampak pencabutan status negara berkembang Indonesia oleh United State Trade Representative (USTR).
 
Peneliti Indef Ahmad Heri Firdaus mengatakan, produk ekspor utama lndonesia ke AS akan mengalami penurunan. Berdasarkan hasil simulasi Global Trade Analysis Project (GTAP), dengan diberikannya tarif impor dengan asumsi meningkat lima persen dari posisi tarif saat ini menyebabkan penurunan ekspor ke AS sebesar 2,5 persen.
 
"Kalau kita terbukti memberikan subsidi ke eksportir maka akan dikenakan tarif anti subsidi karena sebagai negara maju. Barang kita menjadi mahal di sana, permintaannya akan turun," kata dia dalam diskusi di ITS Tower, Jakarta Selatan, Kamis, 27 Februari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penurunan ekspor utamanya terjadi pada kelompok produk tekstil dan produk tekstil yang diprediksi minus 1,56 persen, alas kaki minus 2,2 persen, karet minus 1,1 persen, CPO minus 1,4 persen, produk mineral dan pertambangan minus 0,3 persen, serta komponen mesin listrik minus 1,2 persen.
 
Menurut dia, adanya tarif yang lebih tinggi maka setiap negara yang mengekspor ke AS harus bersaing dalam aspek kualitas dan harga produk serta aspek kesehatan dan keamanan lingkungan. Termasuk produk asal Indonesia yang harus memiliki daya saing tinggi agar diterima di pasar Negeri Paman Sam tersebut.
 
Dirinya menambahkan, jika cara ini berhasil maka bisa saja akan diikuti oleh negara lain yang selama ini mencatatkan defisit perdagangan dengan Indonesia. Untuk itu pemerintah harus bisa meyakinkan AS bahwa tidak ada subsidi kepada para eksportir agar barang yang dikirim ke negara tersebut menjadi lebih murah.
 
"Mereka akan kasak-kusuk bagaimana supaya defisitnya turun. Mungkin sebentar lagi India, karena sudah mulai banyak maunya, sawit kita ditarifin tinggi-tinggi. Kita harus punya cara agar neraca dagang tidak defisit," ungkapnya.
 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif