"Komitmen ini kami wujudkan melalui peluncuran produk tabungan yang diberi nama 'LAKU'. Peluncuran kami lakukan di Desa Ngombak, Kabupaten Grobogan," kata Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja, di sela peluncuran 'LAKU' di Grobogan, Senin (6/4/2015).
Pihaknya berharap, 'LAKU' dapat memfasilitasi dan memotivasi masyarakat akan budaya menabung sekaligus juga mendekatkan dan memperkenalkan layanan lembaga keuangan atau perbankan kepada masyarakat.
"Dengan semakin dekatnya masyarakat terhadap produk perbankan, maka akan dapat menumbuhkan budaya menabung di kalangan masyarakat terutama daerah pedesaan yang selama ini jauh dari kantor cabang," katanya.
Sebagai ganti dari keberadaan kantor cabang, BCA akan menunjuk sejumlah agen yang diharapkan bisa menjadi kepanjangan tangan dari bank untuk berhubungan dengan masyarakat dalam hal ini nasabah.
Mengenai pembayaran masing-masing agen, setiap nasabah yang membuka rekening akan dikenai biaya Rp10 ribu, sedangkan setiap melakukan transaksi khusus penarikan, nasabah akan dikenai biaya Rp2.000. Selanjutnya, biaya tersebut dibagi dua masing-masing 50 persen untuk BCA dan agen. Pihaknya menargetkan, hingga akhir tahun ini dapat terjaring 3.000 agen dengan masing-masing agen mampu menjaring 200 nasabah baru.
"Hingga akhir tahun ini harapannya akan ada 600 ribu nasabah baru khusus dari keberadaan agen. Harapannya dengan adanya layanan uang tanpa kantor ini bisa meningkatkan pendapatan masyarakat khususnya di daerah," katanya.
Sementara itu, Kabupaten Grobogan sendiri menjadi salah satu 'pilot project' BCA dalam menerapkan pelayanan uang tanpa kantor tersebut. Dalam waktu dekat ini, pihaknya juga akan melakukan kegiatan serupa di sejumlah daerah lain yang juga ditunjuk sebagai 'pilot project'. Beberapa daerah tersebut di antaranya Wonogiri, Jepara, Wonosari Yogyakarta, dan Jombang Jawa Timur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News