Ilustrasi. (FOTO: ANTARA/Asep Fathulrahman)
Ilustrasi. (FOTO: ANTARA/Asep Fathulrahman)

Kementan Ubah Pertanian Konvensional Jadi Modern

Ade Hapsari Lestarini • 28 Januari 2016 18:48
medcom.id, Jakarta: Kementerian Pertanian (Kementan) melaporkan program-program yang diusung di kementerian ini telah menunjukkan adanya peningkatan kinerja di 2015.
 
Menurut Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementan, Suwandi, berbagai kebijakan 2015 telah terbukti dan terlihat hasilnya di lapangan. Pengadaan dengan pola penunjukan langsung berdampak penyaluran benih dan pupuk tepat waktu/musim.
 
"Kebijakan bantuan benih tidak di lokasi existing akan berdampak pada luas tambah tanam, perbaikan irigasi berdampak meningkatkan Indek Pertanaman, Alsintan mempercepat olah tanam, waktu tanam, panen dan pasca panen, efisiensi biaya dan mengurangi losses. Pola tanam jajar legowo dan benih unggul meningkatkan produktivitas," jelas dia dalam siaran persnya, di Jakarta, Kamis (28/1/2016).

Oleh karena itu, pada 2016 pihaknya optimistis produksi padi lebih tinggi dari 2015 berkat program nyata dari Pemerintah. Bahkan prospek 2016 akan tertinggi dari produksi selama ini.
 
"Kita harus optimistis, karena optimistis itu memberikan spirit dan doa untuk bekerja keras dan berbuat sesuatu yang lebih baik," tutur dia.
 
Dia menambahkan, kerja keras semua pihak dalam meningkatkan produksi 2015 pun sudah terbukti. Dengan kondisi El-nino 2015 yang lebih kuat dibandingkan 1997, para petani mampu meningkatkan produksi 74,99 juta ton GKG naik 5,85 persen dibandingkan 2014 (data BPS Angka Ramalan-II 2015).
 
Suwandi mengatakan, bila dibandingkan kekeringan 1997, Indonesia mengimpor beras 1998 sebesar 7,1 juta ton untuk memenuhi konsumsi pangan, maka pada 2015 penduduk belum mengonsumi beras medium dari impor.
 
Oleh karena itu, dengan kenaikan anggaran 100 persen, pada 2014 anggaran Kementan sebesar Rp16 triliun dan 2015 naik menjadi Rp32 triliun, digunakan untuk mentransformasi pertanian dari pola konvensional ke pertanian modern, sehingga perlu pembenahan dan anggaran yang besar.
 
"Kita mengubah kebiasaan bertani konvensional yang digeluti 70 tahun ke modern, inilah di 2015 sebagai tonggak bangkitnya modernisasi pertanian," pungkasnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(AHL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan