medcom.id, Jakarta: Direktur Utama PT Pertamina Karen Agustiawan secara resmi akan melepaskan jabatannya pada 1 Oktober 2014. Para pakar, pengamat, dan ahli energi menilai, pengganti Karen berikutnya akan menemui banyak tantangan.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Rinaldy Dalimi mengatakan, dirut Pertamina yang terpilih akan memegang peran ganda yang saling bertolak belakang yaitu peran sebagai pebisnis dan Perusahaan BUMN yang public services obligation (PSO).
"Dua peran itu saling bertolak belakang. Selain itu dirut pertamina ditunjuk oleh tiga menteri(BUMN, ESDM, dan Kemenkeu) jadi punya KPI (key performance index) yang berbeda-beda. Ini yang buat dirut Pertamina bingung mau ikuti yang mana," papar Rinaldy, saat Media Gathering DEN, di kantor DEN Gatot Subroto Kuningan, Jakarta, Selasa (19/8/2014).
Demi mengurangi tekanan dan tingkat kerumitan, dirinya berharap agar ke depan Dirut Pertamina hanya ditunjuk dan bertanggung jawab pada satu kementerian saja.
"Dari dulu saya usulkan Dirut Pertamina harus ditunjuk oleh Kementerian ESDM. Karena masalah kecukupan bahan bakar minyak (BBM) nasional adalah tanggung jawab ESDM. Kalau mau bisnis, harus ada pemisahan yang nyata. misalnya ada Pertamina bisnis, dan ada Pertamina PSO. Kalau tidak, berat nanti bagi dirut Pertamina," tegas pria kelahiran Tanjung Pinang, 24 April 1956.
Karen Agustiawan resmi menjabat sebagai Dirut Pertamina selama 6,5 tahun yaitu sejak 5 Februari 2009. Sebelumnya beliau menjabat sebagai Direktur Hulu pada 2008.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan