Ilustrasi. FOTO: Dok MI/PANCA SYURKANI
Ilustrasi. FOTO: Dok MI/PANCA SYURKANI

Pendanaan MRT Fase II Lewat Pinjaman dan Hibah

Ekonomi mrt Proyek MRT
Desi Angriani • 23 November 2019 07:56
Jakarta: Pemerintah menargetkan pembangunan Moda Raya Terpadu (MRT) fase II rampung pada 2023. Pembiayaan proyek kereta berbasis rel yang membentang dari Bundaran HI hingga Ancol Timur ini membutuhkan biaya sebesar Rp30 triliun. Biayanya naik Rp10 triliun dari total kebutuhan awal seiring penambahan panjang jalur rel kereta dari 8,4 km jadi 14,6 km.
 
Direktur Keuangan dan Manajemen Korporasi PT MRT Jakarta Tuhiyat mengungkapkan pendanaan proyek MRT fase II masih mengandalkan Japan International Cooperation Agency (JICA). Komposisinya berasal dari penerusan pinjaman sebesar 51 persen dan skema penerusan hibah sebesar 49 persen.
 
"Pendanaan fase ke II sama dengan fase pertama menggunakan skema JICA dengan komposisi Penerusan pinjaman 51 persen dan 49 persen skema penerusan hibah," ungkapnya dalam kelas Fellowship MRT Jakarta di Gedung Wisma Nusantara, Jakarta, Jumat 22 November 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tuhiyat menjelaskan nantinya pendanaan itu kembali dituangkan dalam skema three sub level agreement, yakni pinjaman JICA yang telah diterima oleh Kementerian Keuangan dihibahkan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebesar 51 persen dan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan sebesar 49 persen.
 
"Skemanya sama dengan pembiayaan proyek MRT Jakarta Fase I dari Lebak Bulus hingga Bundaran HI sebesar 125 miliar yen," tambahnya.
 
Lebih lanjut, penyaluran pinjaman dari JICA tidak dilakukan sekaligus atau menunggu pengajuan dari MRT secara bertahap. Misalnya, pinjaman pertama (IP 536) senilai 1,8 miliar yen setara Rp200 miliar jangka waktu 22 Maret 2012 hingga 22 Maret 2017, pinjaman kedua (IP 554) senilai 48 miliar yen setara Rp5,5 triliun jangka waktu 28 Juli 2009 hingga 28 Juli 2019.
 
Pinjaman ketiga (IP 571) senilai 72,2 miliar yen setara Rp9,5 triliun jangka waktu 31 Maret 2016 hingga 31 Maret 2022 dan pinjaman keempat 70 miliar yen setara Rp9 triliun jangka waktu 23 April 2019 hingga 23 April 2025.
 
"Asumsinya selesai saya harus siap-siap ajukan IP berikutnya, Jepang engga mau kasih sekaligus, jadi bertahap," katanya.
 
Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan Jepang menyetujui percepatan pembangunan MRT fase II. Pendanaan proyek mass rapid transit tersebut ditaksir membutuhkan Rp100 triliun sejak awal pembangunan.
 
"Jepang berusaha untuk percepat," kata Budi di Kantor Presiden, pada Rabu 20 November 2019.
 
Sedangkan untuk pembangunan MRT fase III rute Balaraja-Cikarang ditargetkan rampung pada 2026. Pengerjaannya diperkirakan bersamaan dengan pembangunan kereta cepat Jakarta-Surabaya yang rampung 2026.
 
"Jadi dari Balaraja-Cikarang kira-kira selesai 2026. Sama seperti Jakarta-Surabaya karena banyak tanah yang harus dibebaskan, butuh waktu untuk menyelesaikan," pungkas Budi.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif