Ilustrasi. FOTO: MI/ROMMY PUJIANTO
Ilustrasi. FOTO: MI/ROMMY PUJIANTO

Konsumsi Baja RI Disebut Masih Rendah di Kawasan Asia

Ekonomi pertumbuhan ekonomi baja ekonomi indonesia
Antara • 19 November 2019 12:04
Jakarta: Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Iswandi Imran mengemukakan konsumsi baja Indonesia relatif masih rendah di kawasan Asia. Dalam hal ini, konsumsi baja per kapita di Indonesia termasuk terendah di Asia yakni hanya 52 kilo gram per kapita.
 
"Sebagai pembanding Filipina 94 kg, Thailand 239 kg, Malaysia 299 kg, Singapura 488 kg, dan Korsel 1,1 ton per kapita," papar Iswandi Imran, dalam sambutan temu pelanggan PT Krakatau Posco, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Selasa, 19 November 2019.
 
Menurut dia konstruksi baja di Indonesia relatif belum sepopuler konstruksi beton. Padahal, banyak keuntungan yang dapat diperoleh biIa menggunakan bahan baja sebagai bahan konstruksi. "Kalaupun baja dipakai untuk konstruksi lebih banyak untuk hal-hal yang memang sudah tidak bisa ditangani lagi dengan material lain," tuturnya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menambahkan pemakaian baja untuk konstruksi juga masih dianggap mahal, sehingga baja di Indonesia hanya diaplikasikan pada hal tertentu. Menurutnya sebagai perencana konstruksi sebaiknya memerhatikan juga material yang ada di lokal. Kalau tidak memerhatikan hal itu maka ujungnya juga harus impor untuk mendapatkan material sesuai desain.
 
"Bisa jadi lebih mahal," ungkapnya.
 
Maka itu, lanjut dia, perencana konstruksi harus aktif mencari informasi segala material yang tersedia di dalam negeri, sementara produsen baja juga harus aktif melakukan pemasaran. "Salah satunya keuntungan menggunakan baja adalah kecepatan waktu konstruksi. Selain itu, beban ke fondasi lebih ringan sehingga bisa dipakai untuk jangka panjang," ucapnya.
 
Kendati demikian, Iswandi Imran mengatakan, industri baja di Indonesia masih menjanjikan pertumbuhan. Hal itu terlihat dari program pemerintah yang tetap fokus pada pembangunan infrastruktur. Apalagi program pemerintah yang tetap fokus pada pembangunan infrastruktur merupakan peluang untuk memperluas penerapan konstruksi baja di Indonesia.
 
"Misal, rencana pembangunan jalan tol sepanjang 2.500 km untuk lima tahun ke depan, yang sebagiannya dalam bentuk struktur elevated," pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif