Ilustrasi petani sawit. Foto: Medcom.id/Nia Deviyana.
Ilustrasi petani sawit. Foto: Medcom.id/Nia Deviyana.

Perang Dagang Ganggu Ekspor Sawit

Ekonomi ekspor minyak sawit Perang dagang
Andhika Prasetyo • 17 September 2019 20:50
Jakarta: Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat, pada Juli, ekspor produk minyak sawit sebesar 2,91 juta ton, tumbuh 16 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya 2,52 juta ton.
 
Peningkatan pembelian terbesar dibukukan Bangladesh dengan kenaikan hingga 264 persen. Diikuti India dengan lonjakan 77 persen.
 
Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono mengungkapkan seharusnya pertumbuhan ekspor bisa tumbuh lebih besar.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tapi perang dagang yang terus terjadi antara Amerika Serikat dan Tiongkok mengganggu pasar minyak nabati dunia," ujar Mukti melalui keterangan resminya, Selasa, 17 September 2019.
 
Sebagaimana diketahui, AS juga merupakan produsen minyak nabati yang bersumber dari kedelai. Karena akses produk itu ke pasar Tiongkok tertutup rapat, akhirnya Negeri Paman Sam menyebar produknya ke berbagai negara lain dengan harga yang rendah.
 
Akhirnya, banyak negara yang membagi pembelian antara minyak nabati sawit dan kedelai. Minyak nabati asal sawit pun harus menurunkan harga agar dapat bersaing dengan minyak kedelai AS.
 
Sedianya, minyak sawit Indonesia juga cukup banyak menggantikan minyak kedelai AS di Tiongkok. Pada Juli, penjualan produk sawit ke Tiongkok mampu tumbuh hingga 50 persen. Namun, menurut Mukti, Indonesia tidak boleh terlalu menggantungkan diri kepada pasar global.
 
Penggunaan dalam negeri baik untuk keperluan pangan ataupun biodiesel tetap harus didorong agar serapan semakin besar.
 
"Indonesia perlu segera merumuskan mekanisme yang memungkinkan pengaturan stok ke pasar dunia. Dengan begitu, kita yang nantinya akan menentukan harga," pungkasnya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif