Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Foto: Kementerian Keuangan
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Foto: Kementerian Keuangan

Pesan Menkeu Agar Pekerjaan Manusia Tak Diganti Mesin

Husen Miftahudin • 04 Oktober 2019 09:37
Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengakui era revolusi industri 4.0 membuat banyak pekerjaan manusia digantikan teknologi otomatisasi (robot) atau kecerdasan buatan (artificial intelligence). Oleh karena itu, ia meminta agar individu mengasah kemampuan dengan terus memanfaatkan perkembangan teknologi.
 
Hal tersebut, lanjutnya, agar menjadi Sumber Daya Manusia (SDM) unggul di era teknologi saat ini. Menurutnya teknologi industri 4.0 bisa merusak atau menghancurkan lapangan kerja yang selama ini dilakukan oleh manusia.
 
"Lapangan kerja yang bersifat manual, repetitif, sangat mudah diganti oleh robot dan terkena dampak otomatisasi," ujar Sri Mulyani, pada acara Milad Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, seperti dikutip dari laman resmi Kementerian Keuangan, Jumat, 4 Oktober 2019.

Namun demikian, Sri Mulyani mengindikasikan terdapat beberapa keterampilan manusia yang tidak mudah digantikan oleh mesin. Misalnya, empati, kreativitas, dan keahlian analitis atas masalah yang bersifat kompleks.
 
Menurutnya pendekatan pendidikan yang hanya memfokuskan pada pengembangan intelligence quotient (IQ) tanpa mengasah kemampuan emotional intelligence (EI) tak lagi relevan saat ini dan di masa depan.
 
"Ilmu yang sifatnya memorizing, menghafal, akan sangat mudah digantikan oleh artificial intelligence. Sekarang ini robot IQ-nya mudah mencapai 700 bahkan sekarang sudah 70 ribu. (Sedangkan) orang dengan IQ 150 sudah dianggap jenius," tuturnya.
 
Jadi, jika harus berkompetisi dengan robot dari sisi IQ, maka kemungkinan manusia akan dikalahkan. Sri Mulyani menegaskan agar generasi muda mengasah keahlian yang tidak hanya bersifat kognitif tetapi juga mengasah kepekaan, rasa, dan kreativitas.
 
Dengan demikian, diharapkan dapat menyelesaikan persoalan-persoalan kompleks dan rumit yang memerlukan penanganan tidak hanya mengandalkan kecerdasan tetapi juga empati dan inovasi.
 
"Kita harus mampu mendidik yang tidak hanya memorizing, melakukan manual work, tetapi yang mampu melakukan analytical work, kreativitas, suatu komplek problem solving. Itu hanya bisa dilakukan oleh manusia melalui interaksi otak dan hati. Robot bisa menggantikan (kecerdasan) otak kita, tapi dia tidak bisa meng-create hati," pungkasnya.
 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ABD)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan