Illustasi. Dok;AFP.
Illustasi. Dok;AFP.

Studi: Bunga Pinjaman Konsumtif P2P Lending Setara Rentenir

Ekonomi Pinjaman tunai online
Nia Deviyana • 08 Mei 2019 05:29
Jakarta: Studi LPEM FEB UI menunjukkan tingkat bunga pinjaman peer-to-peer (P2P) lending konsumtif dan produktif secara alami memiliki perbedaan. Untuk pinjaman konsumtif, bunga yang diperbolehkan mencapai batas sebesar 0,8 persen per hari (sesuai aturan terakhir yang dirilis oleh OJK).
 
"Ini sama dengan 1.661 persen per tahun. Tingkat suku bunga ini sebanding dengan skema pinjaman yang sama yang ditawarkan oleh pemberi pinjaman informal seperti rentenir," ujar Kepala Kajian Makro LPEM Fakultas Ekonomi UI Febrio Kacaribu lewat keterangan tertulis, Selasa, 7 Mei 2019.
 
Sementara, tingkat suku bunga yang ditawarkan platform pinjaman produktif berkisar antara 14 hingga sekitar 20 persen per tahun. Ini cukup dekat dengan suku bunga pinjaman modal kerja yang ditawarkan oleh bank, dan jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan pinjaman yang sama yang ditawarkan oleh pemberi pinjaman informal.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebelum munculnya fintech pinjaman, sudah ada beberapa fasilitas pinjaman non-bank, seperti fasilitas pinjaman tanpa agunan yang ditawarkan oleh MBK Ventura, Kuperasi Mitra Dhuafa, Mekar, dan lain-lain, yang memberikan kredit dengan tingkat bunga dalam kisaran antara 18 hingga 35 persen per tahun.
 
Mirip dengan produk ini, dengan tingkat suku bunga yang mirip juga, sekarang telah hadir platform online yang melayani segmen mikro-lending yang sama. Beberapa juga menawarkan produk pinjaman dengan prinsip Syariah. Skema kredit Paket Masa Depan (PMD) bahkan ditawarkan oleh bank seperti BTPN Syariah yang memberikan plafon fasilitas kredit hingga Rp50 juta untuk mendukung usaha mikro di kalangan perempuan di daerah pedesaan.
 
Di antara semua jenis variasi produk dan segmen di atas, tingkat suku bunga yang relatif rendah yang ditawarkan di platform P2P lending seperti Investree, Modalku, KoinWorks, dan Akseleran, menurut Febrio, layak mendapatkan perhatian khusus.
 
"Platform ini biasanya mensyaratkan invoice sebagai 'jaminan', menggunakan sistem credit scoring yang cukup canggih, dan juga melibatkan produk asuransi kredit," imbuhnya.
 
Febrio melanjutkan fintech yang dia sebutkan cukup berperan dalam membantu inklusi keuangan di Indonesia, khususnya karena mereka melayani UKM yang tidak bankable. "Namun lebih dari itu, mereka juga mempromosikan praktik terbaik dalam industri fintech pinjaman di Indonesia," tuturnya.
 
Tingginya tingkat suku bunga merupakan cerminan dari masalah informasi yang asimetrik. Ini memang bisa menjadi penghambat potensi bukan hanya bagi industri fintech pinjaman tetapi juga perekonomian secara umum.
 
"Akan tetapi, kami berpendapat bahwa konsep laissez-faire perlu diterapkan pada P2P untuk menciptakan persaingan pada tingkat suku bunga itu sendiri. Dengan makin banyaknya perusahaan yang masuk ke dalam industri ini, skala ekonomi yang tercapai dan tingkat kompetisi yang meningkat akan secara natural menurunkan tingkat suku bunga," pungkasnya.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif