Seorang pedagang melakukan perbaikan alat kesehatan bekas di kawasan Pasar Rumput. (FOTO: dok MI)
Seorang pedagang melakukan perbaikan alat kesehatan bekas di kawasan Pasar Rumput. (FOTO: dok MI)

Industri Kaca Alat Farmasi dan Kesehatan Tambah Kapasitas

Ekonomi industri farmasi kementerian perindustrian
Ilham wibowo • 25 April 2019 11:15
Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu pengembangan industri kaca untuk alat-alat farmasi dan kesehatan. Kebutuhan pasar dalam negeri masih perlu untuk diisi.
 
Berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035 sektor industri tersebut menjadi prioritas. Tujuan utama lainnya yakni menjadi substitusi impor dan mampu berdaya saing di kancah internasional.
 
"Di samping itu, Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan mengamanatkan bahwa untuk mendukung percepatan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan, antara lain dengan meningkatkan daya saing industri di dalam negeri dan ekspor," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto melalui keterangan tertulis, Kamis, 25 April 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menperin mengemukakan peluang pengembangan industri kaca alat-alat farmasi dan kesehatan masih sangat terbuka. Hal ini ditopang dengan tumbuhnya kinerja industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional sebesar 4,46 persen pada 2018.
 
"Bahkan, jumlah penduduk Indonesia mencapai 260 juta jiwa yang membutuhkan produk farmasi berupa vaksin, obat dan lainnya, mendorong pula kebutuhan pasar domestik," ungkapnya.
 
Konsumsi produk ampul di dalam negeri sebesar 700 juta pieces (pcs) per tahun dan produk vial sebesar 500 juta pcs per tahun dengan pertumbuhan kebutuhan per tahun sebesar tiga persen.
 
Kemenperin memberikan apresiasi perusahaan seperti PT Schott Igar Glass atas upaya penambahan top line production sebanyak dua mesin AK 2000. Mesin yang mengadopsi teknologi industri 4.0 ini untuk meningkatkan kapasitas terpasang produk vial dari 540 juta pcs per tahun menjadi 576 juta pcs per tahun atau tambah sebesar 36 juta pcs per tahun.
 
Kapasitas produksi terpasang untuk ampul sebesar 775 juta pcs per tahun. Pada 2018, ekspor produk ampul dan vial secara nasional sebesar 2.500 ton atau senilai USD17 juta.
 
"Capaian tersebut, menjadikan PT Schott Igar Glass sebagai produsen utama dari produk vial dan ampul untuk kebutuhan domestik dengan pangsa pasar mencapai 70 persen. Selain itu, PT Schott Igar Glass telah menembus pasar ekspor ke lebih dari 20 negara di Asia dan Eropa," papar Airlangga.
 
Menperin menyampaikan industri kaca merupakan sektor padat modal yang membutuhkan biaya investasi besar. Pelaksanaan kebijakan pengembangan sektor industri pengolahan pun difokuskan pada penguatan rantai pasok untuk menjamin ketersediaan bahan baku serta energi yang berkesinambungan dan terjangkau. Hal ini sesuai amanat yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian.
 
Lebih lanjut, guna melindungi industri kaca farmasi di dalam negeri, Kemenperin berinisiasi untuk melakukan penyusunan Standar Nasional Indonesia (SNI) produk ampul. Selain itu SNI produk vial juga akan direvisi yang selanjutnya akan diwajibkan.
 
"Dengan diproduksinya ampul dan vial di dalam negeri, kita harapkan pula dapat mengoptimalkan nilai tingkat komponen dalam negeri (TKDN) produk farmasi melalui komponen kemasan dalam proyek pengadaan jaminan kesehatan pemerintah," tuturnya.
 

(AHL)
MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif