Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani memastikan daya tarik investasi sektor otomotif di Indonesia masih cukup tinggi.
"Keputusan FMI untuk menghentikan kegiatannya di Indonesia bukan sinyal menurunnya daya tarik investasi sektor otomotif," tegas Franky dalam siaran persnya, Selasa (26/1/2016).
Franky membeberkan, berdasarkan data yang dimiliki BKPM, FMI memiliki perizinan di bidang usaha perdagangan besar, perdagangan impor dan pelayanan purna jual, serta bidang usaha pemeliharaan dan reparasi mobil.
"Tidak ada perizinan di bidang usaha industri otomotif. Hingga kini, perusahaan juga belum mengajukan pencabutan atas izin usaha yang dimiliki ke BKPM," ungkapnya.
Dia menekankan, minat investasi industri otomotif ke Indonesia akan tetap tinggi. Ini ditandai dengan geliat investasi di sektor otomotif Tanah Air. "Ke depan, kami tetap optimistis bahwa perkembangan investasi di bidang otomotif akan terus meningkat," ujar Franky.
Data BKPM 2015 menunjukkan realisasi investasi sektor industri alat angkutan dan transportasi, termasuk di dalamnya otomotif, mencapai Rp23,57 triliun, naik 6,5 persen dibandingkan realisasi di 2014 sebesar Rp22,13 triliun.
Sedangkan untuk investasi asing yang khusus sektor otomotif, baik industri maupun jasa (perdagangan dan reparasi) tercatat mencapai Rp21,6 triliun, meningkat 13 persen dari tahun sebelumnya sebesar Rp19 triliun.
Beberapa waktu lalu, Kepala BKPM juga berkesempatan meninjau proses konstruksi investasi otomotif asal Tiongkok, Wuling. Investasi dengan rencana total sebesar USD397,4 juta tersebut saat ini sudah terealisasi USD43,5 juta dan diharapkan sudah mulai berproduksi 2017.
Franky juga menyatakan kesiapan BKPM untuk mengawal masuknya 15 perusahaan komponen yang akan memasok Wuling. Perusahaan tersebut akan diarahkan memanfaatkan layanan izin 3 Jam.
Investasi Wuling di Indonesia direncanakan untuk membangun pabrik otomotif bagi kendaraan berjenis MPV dengan kapasitas mencapai 84 ribu dan 36 ribu unit, serta industri penunjang yakni suku cadangnya.
Berdasarkan data International Organization of Motor Vehicle Manufacturers (OICA), rasio kepemilikan mobil di Indonesia sekitar 77 unit per 1.000 penduduk, lebih kecil dari Malaysia yang 397 unit per 1.000 penduduk. Rasio kepemilkan mobil tersebut menunjukkan peluang pasar mobil di Indonesia masih sangat besar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News