Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu.
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu.

Pengamat: Tugas Ahok Berat dan Besar

Ekonomi ahok Pergantian Direksi BUMN
Media Indonesia • 25 November 2019 08:15
Jakarta: Peneliti Alpha Research Database Indonesia, Fedry Hasiman mengatakan tugas Basuki Tjahaja Purnama (BTP) sebagai Komisaris Utama Pertamina amat berat dan besar. Selain untuk menahan laju intevensi nonkoorporasi masuk ke Pertamina, BTP juga mesti menciptakan iklim internal Pertamina yang baik dan berintegritas.
 
"Walaupun banyak orang yang menganggap ucapannya cenderung kasar, tapi ini tidak, dalam sebuah kultur birokrasi dan koorporasi ini sangat tepat. Terutama dalam korporasi yang kulturnya sangat korup," kata Ferdy saat dihubungi, Minggu, 24 November 2019.
 
BTP menurutnya adalah sosok yang bisa bertindak cepat, tepat dan tetap teliti. Dengan begitu, kerja-kerja direksi Pertamina dapat terkontrol denga baik seiring mantan Gubernur DKI itu menduduki jabatan Komisaris Utama.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Maka itu sangat penting menempatkan komisaris seperti Ahok di Pertamina, karena dia teliti, bersih dan punya integritas, tidak ada conflict interest dan bagus untuk membangun bisnis di hulu dan hilir di Pertamina," jelas Ferdy.
 
Tugas lainnya yang harus dikerjakan oleh BTP, sambung Ferdy, yakni menciptakan teamwork yang solid di tubuh Pertamina. Pasalnya Pertamina selama ini dinilai memiliki teamwork yang kurang baik.
 
Teamwork yang kurang baik itu pula menyebabkan kinerja Pertamina kurang memuaskan meski Presiden Joko Widodo telah memberikan kesempatan untuk maksimalisasi energi dalam negeri.
 
"Selama ini visi misi Jokowi, Nawacita, untuk sektor energi itu belum dimaksimalkan, karena kita impor minyak terlalu besar, impor migas terlalu besar, dan itu membuat defisit neraca perdagangan makin melebar," imbuh Ferdy.
 
"Dari level paradigmatik, Nawacita itu kan saripati dari Trisakti Bung Karno, jadi di sektor energi kita harus berdaulat dulu. Artinya ketergantungan kita terhadap impor harus diminimalisir. Bukan ditiadakan, paling tidak diminimalisir, jangan terlalu besar. Tugas dari Ahok (BTP) nanti adalah membangun teamwork yang bagus di Pertamina. Supaya bisa membangun hulu atau meningkatkan produksi, lalu membangun hilir, membuat bisnis yang trrintegrasi dari hulu sampai ke hilir," sambungnya.
 
Di sektor hilir misalnya, pembangunan kilang minyak yang tersendat dinsinyalir karena soliditas internal Pertamina berjalan kurang baik. Mandeknya peremajaan dan pembangunan kilang minyak, kata Ferdy, menjadi salah satu sebab Indonesia masih mengimpor minyak besar-besaran. Di sini peran BTP akan terlihat nantinya.
 
"Pertamina harus menyelesaikan peremajaan beberapa kilang, terutama kilang Pekalongan, Bontang, lalu kilang Cilacap. Dari beberapa kilang ini belum ada yang jalan dari tiga direksi yang dipilih selama lima tahun terakhir. Pentingnya Ahok, dia bisa mengawal itu, kalau direksi tidak bekerja cepat, dia harus bisa memberikan masukan kepada pemegang saham. Karena kalau kilang itu lambat, kita akan terus mengimpor minyak," jelas Ferdy.
 
Ia meyakini, pekerjaan yang berat dan besar itu akan mampu dijalani oleh BTP selama menajdi Komisaris Utama Pertamina. Itu berdasarkan apa yang telah dilakukan ketika menjadi Gubernur DKI.
 
"Masuknya Ahok bisa membangun transparansi seperti yang dibuat di DKI, dia bisa mengontrol mafia atau lainnya melalui sistem yang dia bangun seperti di DKI. Menurut saya Ahok bisa jadi garansi bagi investor karena dia bersih, teliti, ini modal bagi Pertamina," pungkas Ferdy. (M. Ilham Ramadhan Avisena)
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif