Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Foto: MI/Susanto.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Foto: MI/Susanto.

Enggar Ungkap Neraca Dagang RI dengan Tiongkok Jomplang

Ekonomi neraca perdagangan indonesia indonesia-tiongkok
Ilham wibowo • 17 Oktober 2019 18:27
Tangerang: Neraca perdagangan Indonesia terhadap Tiongkok kian melebar jadi USD13,99 miliar secara kumulatif di Januari-September 2019. Padahal, Negeri Tirai Bambu itu merupakan negara tujuan ekspor terbesar produk nonmigas Indonesia.
 
Idealnya, nilai ekspor produk Tanah Air ke Tiongkok bisa sama besar dengan nilai ekspor dari Tiongkok ke Indonesia. Faktanya, ekspor produk dari Tiongkok berat sebelah dan justru mendominasi kebutuhan masyarakat Indonesia.
 
Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menyebut kondisi itu sudah menjadi fokus agar terus dilakukan pembenahan dengan diplomasi dan negosiasi perdagangan. Pemerintah Tiongkok pun telah membuka lebar produk nonmigas dari Indonesia agar bisa masuk dan memenuhi pasar di negara berpenduduk 1,4 miliar jiwa itu.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tiongkok, mereka mendorong, membuka, dan memberikan kemudahan bagi kita untuk ekspor, tapi kita sampaikan betapa kesulitan kita hadapi," kata Enggar ditemui di ICE BSD Tangerang, Kamis, 17 Oktober 2019.
 
Enggar mengakui, proses agar sebuah produk bisa diekspor di Indonesia tak semudah dengan regulasi yang diberlakukan Pemerintah Tiongkok. Beragam hambatan justru ditemui terutama belum kuatnya sinergi antarlembaga pemerintah di Indonesia.
 
"Salah satu kesulitan yang ada karena kita, itu yang kemudian disampaikan Bapak Presiden mau teriak tapi kita sendiri yang membatasi itu," ungkapnya.
 
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai defisit neraca perdagangan nonmigas dengan Tiongkok tersebut meningkat jika dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar USD13,95 miliar. Defisit terjadi karena nilai impor Indonesia dari Tiongkok masih lebih besar dari nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok.
 
Pada periode Januari-September 2019, nilai impor nonmigas dari Tiongkok menurut 10 harmonized system dua digit terbesar tercatat USD32,34 miliar. Sedangkan ekspor ke Tiongkok hanya bernilai USD18,35 miliar.
 
Peningkatan ekspor tak bisa hanya mengandalkan kemampuan Kementerian Perdagangan semata. Proses ekspor mestinya cukup dengan dokumen Eksportir Terdaftar (ET). Standardisasi produk yang dilakukan di kementerian lain idealnya juga bisa ikut selaras mendukung program peningkatan ekspor.
 
"Persyaratan ekspor agak panjang ke kiri ke kanan ya bagaimana mereka mau ekspor, habis saja waktu di dalam negeri. Ambil contoh yang berulang kali Bapak Presiden sampaikan, Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu (SVLK) tidak dibutuhkan di negara yang tidak mensyaratkan itu, tapi kita mensyaratkan itu," paparnya.
 
Langkah memudahkan para eksportir melebarkan pasarnya telah difokuskan Kemendag. Sebanyak 18 permendag telah revisi dan siap diimplementasikan.
 
"Nah Pak Presiden sampai pada posisi kalau tidak maka beliau yang akan cabut, nah saya takut, takut malu, daripada dicabut oleh Presiden saya cabut-cabutin dulu, saya laporkan dulu, karena waktu tinggal satu bulan pada saat itu rapat kabinet," tuturnya.
 
Adapun komoditas impor dari Tiongkok yang mengalami kenaikan terbesar yakni komoditas perabot dan penerangan rumah. Impor komoditas ini sebesar USD644,81 juta pada Januari-September 2019, tumbuh 32,51 persen dari periode sama tahun lalu USD486,60 juta.
 
Selain perabot, komoditas impor dari Tiongkok yang mengalami pertumbuhan pesat yakni mesin-mesin dan pesawat mekanik. Impor komoditas ini tercatat senilai USD7,78 miliar naik 12,69 persen dari periode sama tahun lalu USD6,9 miliar.
 
Komoditas kendaraan dan bagiannya juga tumbuh pesat. Impor komoditas ini tercatat sebesar USD783,82 juta, naik 6,79 persen dari periode sama tahun lalu USD734,02 juta.
 
Komoditas plastik dan barang dari plastik menyusul sebagai komoditas impor terbesar dari Tiongkok setelah kendaraan. Impor komoditas ini sebesar USD1,34 miliar, naik 6,08 persen dari periode sama tahun lalu USD1,27 miliar.
 
Kemudian, komoditas filamen buatan serta komoditas besi dan baja. Masing-masing tercatat tumbuh 4,53 persen dan 1,49 persen dari periode sama tahun lalu.
 
Sedangkan beberapa komoditas impor yang mencatatkan penurunan yakni mesin dan peralatan listrik, bahan kimia organik, benda-benda dari besi dan baja, bahan kimia anorganik, serta komoditas lainnya.
 
Sementara ekspor RI ke Tiongkok tercatat menurun sebesar 0,97 persen pada periode Januari hingga September 2019. Komoditas yang mengalami penurunan nilai ekspor terbesar yakni kertas dan karton yaitu turun 43,9 persen.
 
Penurunan juga terjadi pada komoditas karet dan barang dari karet 28,24 persen, kayu dan barang dari kayu sebesar 27,63 persen, produk kimia 20,68 persen, tembaga 8,47 persen, bijih, kerak dan abu logam 8,26 persen, kapas 3,92 persen, bubur kayu dan pulp 2,99 persen, dan bahan bakar mineral 0,3 persen.
 
Nilai pertumbuhan tipis hanya terdapat pada komoditas lemak dan minyak hewan nabati, besi dan baja, bahan kimia organik, alas kaki, ikan dan udang, plastik dan barang dari plastik.
 

(HUS)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif