Pedagang di skybridge bernama Sapril, 65. Medcom/Ilham Wibowo.
Pedagang di skybridge bernama Sapril, 65. Medcom/Ilham Wibowo.

PKL Skybridge Tanah Abang Bidik Penjualan saat Lebaran

Ekonomi tanah abang
Ilham wibowo • 12 Februari 2019 17:06
Jakarta: Pedagang kaki lima (PKL) yang menempati lapak di Jembatan Penyebrangan Multiguna (JPM) atau skybridge Tanah Abang punya target omzet yang cukup tinggi. Momentum peningkatan penjualan diyakini muncul mulai Maret 2019.
 
Pedagang di skybridge bernama Sapril, 65, mengungkapkan bahwa kawasan Tanah Abang merupakan pusat distribusi produk tekstil terbesar nasional sejak lama. Penjualan stok barang pun dipastikan mengalir deras dua bulan jelang perayaan Idulfitri.
 
"Februari masih sepi, mulai ramai itu penjualan di bulan tiga (Maret) jelang bulan puasa," kata Sapril kepada Medcom.id, Selasa, 12 Februari 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pria yang telah berdagang di Tanah Abang sejak 1970 ini memastikan momentum untung ini berulang setiap tahun. Bahkan, omzet yang didapat selama dua bulan tersebut bisa menutupi potensi pendapatan yang hilang di 10 bulan lainnya.
 
"Stok barang itu jadi penting, kalau stok banyak dari sekarang mungkin saat Lebaran bisa untung banyak," ungkap pedagang celana bahan ini.
 
Lapak nomor S 365 yang dikelola Supril dinilai cukup mampu untuk menampung hingga 700 potong celana. Jumlah itu bisa ludes per hari dengan harga eceran mulai Rp80 ribu-Rp150 ribu.
 
"Tempat kecil saya ini dana Rp50 juta sudah cukup lah buat buat belanja modal. Target pendapatan bisa Rp75 juta sehari dan Rp25 juta itu bersih," bebernya.
 
Selain pelanggan tetap, pembeli di lapak Sapril juga diyakini bakal berdatangan dari berbagai daerah dengan transaksi skala besar. Ia juga memberikan diskon khusus kepada pembeli yang berniat memperjualbelikan kembali barangnya.
 
"Putaran uang di sini cepat. Kualitas barang bisa saya jamin sama dengan yang ada di Mall. Saya ambil untung dikit karena enggak perlu bayar sewa toko sama pegawainya," kata Sapril.
 
Meski demikian target yang diproyeksi Sapril tak bisa langsung seketika ia wujudkan. Ia mengaku masih kesulitan mengambil kredit modal di bank konvensional lantaran faktor usia.
 
Selain itu, Sapril juga belum bisa memanfaatkan teknologi finansial sebagai pilihan alternatif belanja modal. Ia yang hanya terbiasa berjualan dengan skema tradisional ini juga perlu bersaing berebut barang dari produsen produk tekstil di Surabaya.
 
"Sekarang sedang persiapan, modal kuat itu di sini bisa berhasil. Saya juga ingin usaha berkembang, tapi kendalanya itu tidak bisa ambil kredit karena dibilang umur saya tidak masuk persyaratan," pungkasnya.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif