Sebelum menyalami semua yang hadir, dia memberi 'warning' kepada sejumlah komisaris, direksi dan pejabat yang berada di lingkungan BUMN.
Sesaat setelah ditunjuk, Dahlan langsung memberikan arahan tegas bagi seluruh tamu yang hadir. Tak seperti halal bihalal biasanya, yang langsung mengenang atau bernosltagia tentang Lebaran dan pernak-perniknya. Dia malah menyampaikan beberapa catatan kritis terhadap pegawainnya.
Dahlan meminta kepada pejabat BUMN untuk segera memperhatikan nasib karya anak bangsa. Dia mengatakan, karya atau penemuan bangsa seringkali tidak dianggap oleh bangsa sendiri.
Dia menyadari, sikap BUMN yang cenderung acuh terhadap karya itu, lebih karena khawatir akan resiko yang muncul, terutama soal regulasi, pendanaan dan keunggulan karya.
"Mau pakai tidak berani, mau tunjuk tidak berani, mau coba takut tidak berhasil," ujar Dahlan di Kantor Kementerian BUMN, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (4/8/2014).
Oleh karena itu, Dahlan meminta kepada BUMN terutama yang padat teknologi, agar menambah anggaran, khususnya untuk pos penelitian dan pengembangan (Research and Development/R & D) dalam revisi Rencana Kerja dan Anggaran (RKAP) kedepan. Sehingga, kata Dahlan, penemuan anak bangsa dapat dimanfaatkan dengan baik.
"Kalau nanti memang alat ini berhasil, ini menjadi aset. Dibeli beneran. Alat ini harus mendapat muara menjadi kenyataan dalam praktek di negara kita. Terlalu banyak penemuan anak bangsa kita tidak ada muaranya. Akhirnya kita menjadi bangsa pengimpor dan sangat tergantung teknologi dari luar," tukasnya.
Selain itu, Dahlan juga mengimbau agar sesama BUMN dapat saling bekerjasama satu sama lain. Dia menuturkan, secara pribadi, dirinya tak mau bekerjasama dengan swasta, kendati swasta tersebut adalah teman dan sahabatnya sendiri.
"Setiap ada orang yang ketemu saya, kalau bekerjasama dengan BUMN, selalu saya bilang kepada mereka jangan," kata Dahlan.
Dalam kesempatan Halal Bihalal itu juga, Dahlan memberikan peringatan agar tidak terjadi nepotisme di tubuh BUMN. Dia banyak menemukan beberapa anak petinggi BUMN yang bekerja di perusahaan tempat orang tuanya memimpin.
"Ada beberapa temuan, anaknya direktur utama. Anaknya direktur yang menjadi karyawan di perusahaan itu," ujarnya.
Dahlan meminta, agar perilaku nepotisme tersebut dapat dihilangkan, setidaknya dikurangi. "Nepotisme mungkin tidak pidana, tapi bagian manajemen itu sehat atau tidak," ucap mantan Dirut PLN tersebut.
Saat dikonfirmasi, apakah sambutan dalam hala bihalal tersebut adalah warning, dia mengatakan bahwa hal tersebut adalah 'guidance'. "Yang saya sampaikan tadi itu, hanya 'guidance',"ujar Dahlan. (M Rodhi Aulia)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News