Illustrasi. ANTARA/Irwansyah Putra.
Illustrasi. ANTARA/Irwansyah Putra.

Perubahan Pola Konsumsi Daging Sapi jadi Peluang Kendalikan Harga

Desi Angriani • 23 Mei 2017 15:00
medcom.id, Jakarta: Pola konsumsi masyarakat terhadap konsumsi daging sapi kini dinilai mengalami perubahan. Masyarakat tak lagi terpaku pada daging sapi segar.
 
Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) menilai lebih dari 20 persen masyarakat kini mau untuk mengonsumsi daging sapi beku atau frozen. Bayu bilang, ini merupakan kesempatan untuk mengendalikan harga daging sapi.
 
"Masyarakat di pasar becek (tradisional) sudah mulai menerima frozen," kata Ketua Perhepi Bayu Krisnamurthi dalam seminar nasional bertema mendorong perubahan persepsi dan perilaku pangan konsumsi di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta Pusat, Selasa 23 Mei 2017.

Tingginya harga daging sapi juga disebabkan adanya bagian yang tidak laku sehingga para penjual membebankan biaya produksi pada bagian yang laku. Hal ini perlu diubah yakni dengan membuat bagian yang tidak laku menjadi nilai tambah.
 
Misalnya saja bagian darah sapi bisa diolah menjadi pakan ikan. Atau tulang, bisa menjadi kerajinan atau dibubukkan menjadi tepung ikan. Intinya, lanjut mantan Wakil Menteri Perdagangan ini, jangan hanya berfikir menyelesaikan permasalahan harga hanya dari daging sapinya saja. Tapi harus melihat keseluruhan pola permintaan dan pola konsumen terhadap daging.
 
"Salah satu strategi pengendalian harga daging sapi adalah buatlag semua bagian sapi itu laku, termasuk darah, tulang yang sebenarnya punya nilai dan bisa dijadikan income peternak sehingga harga daging enggak harus menanggung beban dari bagian enggak laku," jelas dia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan