HKTI Dorong Modernisasi Genjot Kesejahteraan Petani
Pengunjung melihat pertanian bawang merah di Hari Pangan Sedunia ke-36 di Komplek Perkantoran Terpadu Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (28/10/2016). Foto: Antara/Aloysius Jarot Nugroho
Jakarta: Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) mendorong pemerintah menerapkan modernisasi pertanian. Perubahan paradigma yang mengedepankan teknologi dan riset untuk kesejahteraan harus menjadi budaya petani.  

"Kami berharap petani dari waktu ke waktu sudah terbiasa menggunakan teknologi sebagai upaya meningkatkan produksi. Ini sedang kami kerjakan dalam tempo tidak terlalu lama," kata Ketua Umum HKTI Moeldoko saat menutup acara Asian Agriculture and Food Forum (ASAFF) 2018, seperti dilansir Antara, Sabtu, 30 Juni 2018. 

Mekanisasi di seluruh sektor pertanian, kata dia, juga bertujuan untuk meningkatkan produksi dan kualitas hasil bumi. Walhasil, pertanian Indonesia bisa bersaing di dunia. 

Moeldoko mengatakan, di negara maju, sektor pertanian memiliki kecenderungan menggunakan teknologi tinggi. Setiap benih, bibit, alat, dan mesin pertanian selalu ditingkatkan dengan inovasi baru agar hasil buminya meningkat mengimbangi pertumbuhan penduduk. 

"Saya ingin menyampaikan bahwa negara yang memiliki tingkat kemajuan di pertanian pasti memiliki high innovation. Petani kita, pertanian Indonesia, bisa cepat berkembang dengan teknologi. Saat ini masyarakat kita sebagian besar masih tradisional," kata kepala Staf Kepresidenan ini.

HKTI, lanjut Moeldoko, sudah melakukan sejumlah inovasi di sektor pertanian. Moeldoko mengaku telah menemukan benih padi berumur 70 hari yang bisa menghasilkan delapan ton per hektare. "Saya punya M500, hasilnya sembilan ton," ujar dia.

Di samping padi, Moeldoko menyebut HKTI juga telah berhasil menemukan bibit kentang yang bisa meningkatkan produktivitas. Hasil pengembangan kentang ini diklaim bisa mencapai produktivitas 30 ton per hektare, dua kali lipat dibanding dengan bibit kentang sebelumnya. 

Kerja sama teknologi pertanian

Penyelenggaraan ASAFF selama tiga hari juga menghasilkan sejumlah kerja sama bilateral dengan negara lain. Menurutnya, Indonesia bisa mencontoh teknologi pertanian yang tergolong maju seperti Israel, Taiwan, dan Thailand.  Dengan nilai tukar mata uang asing yang meningkat, kesejahteraan petani justru bisa meningkat karena ekspor hasil pertanian meningkat. 

"Kami HKTI telah bangun komunikasi dan akan menandatangani MoU dengan negara-negara yang memiliki high technology di bidang pertanian, agar terjadi transformasi teknologi, transformasi culture, knowledge, dan seterusnya," jelas Moeldoko. 

Bukan hanya produksi, petani Indonesia juga diharapkan bisa mandiri dalam mengola hasil buminya. Dengan pengelolaan dan pengemasan yang bagus, nilai jual pangan akan semakin tinggi. 

Baca: Teknologi Pertanian, Kunci Indonesia Jadi Lumbung Pangan Dunia

"Percuma ada barang bagus tetapi tidak bisa mengolah. Karena itu, kami siapkan barang bagus, benih, dan pupuk. Setelah itu kami dampingi dengan baik dan coba untuk bantu cari pembelinya," kata mantan Panglima TNI ini.

Selain masalah inovasi dan mekanisasi, Moeldoko juga menjamin HKTI akan mendorong pemerintah untuk membuat kebijakan yang mengarah pada kedaulatan pangan. Moeldoko memastikan lembaganya itu menjadi penengah di antara pemerintah, akademisi, pengusaha, dan petani. 

Menghidupkan rempah

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengapresiasi ide dan gagasan Moeldoko yang turut membangun sektor pertanian Indonesia. Amran menyadari HKTI termasuk lembaga yang memiliki banyak inovasi.

"Kata kunci suksesnya pertanian harus mendorong inovasi. Harus mendorong bibit, mekanisasi, kemudian pengolaan pascapanen. Tadi menarik di acara ASAFF, banyak produk yang produktivitasnya tinggi. Mulai dari kedelai, sayur-sayuran, hingga rempah-rempah," kata Amran. 

Amran juga ingin rempah-rempah Indonesia kembali jaya seperti pada 1602. Saat itu, rempah-rempah Indonesia sangat bagus di mata dunia sehingga menjadi sasaran bagi Belanda dan Spanyol. 

"Sekarang Bapak Presiden memerintahkan untuk mengembangkan rempah-rempah, mengembalikan kejayaan rempah-rempah seperti 500 tahun yang lalu. Kami sudah menyiapkan anggaran Rp5 triliun lebih untuk beli bibit dan pupuk gratis guna dibagikan ke masyarakat Indonesia," kata Amran. 

Amran juga menginginkan petani Indonesia meningkatkan produktivitas dan kualitas pertaniannya. Bahkan, dia mengharapkan HKTI mendorong anggotanya untuk menyemangati petani agar melakukan ekspor. 

Seperti komoditas kopi, lanjut Amran, Indonesia harus bisa menghasilkan produktivitas dua ton per hektare. Dengan begitu, kopi Indonesia akan menjadi nomor satu terbaik di dunia.

"Inilah peran HKTI. Tadi sudah dipamerkan, kami sangat mengapresiasi seluruh pengurus HKTI di Indonesia," kata dia.






(UWA)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id