Layar menampilkan rapat terbatas (ratas) melalui konferensi video yang dipimpin Presiden Joko Widodo dari Istana Bogor di ruang wartawan Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 30 Maret 2020. Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Layar menampilkan rapat terbatas (ratas) melalui konferensi video yang dipimpin Presiden Joko Widodo dari Istana Bogor di ruang wartawan Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 30 Maret 2020. Foto: Antara/Hafidz Mubarak A

Gula dan Bawang Putih Dijamin Sentuh Harga Normal

Ekonomi gula Bawang Putih
Nur Azizah • 02 April 2020 15:40
Jakarta: Presiden Joko Widodo menyebut harga bahan pokok seperti gula dan bawang merah segera menyentuh harga normal. Pasalnya, sejumlah wilayah akan memenuhi stok dari hasil panen raya.
 
"Saya cek juga ke Bulog (Badan Urusan Logistik) dan ke daerah-daerah mengenai panen raya seperti apa, dan melihat beras, daging, telur, gula, terigu, masih berada dalam kondisi baik," kata Jokowi di Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis, 2 April 2020.
 
Kepala Negara telah menerima laporan dari Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo ihwal harga gula. Pekan depan, harga gula diperkirakan turun menjadi Rp12.500 per kilogram dari sebelumnya Rp16.000-Rp18.000.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Menteri Perdagangan (Agus Suparmanto) juga menyampaikan kepada saya bahwa bawang sudah masuk dan kita harapkan bawang putih minggu depan atau syukur minggu ini kembali ke harga normal Rp20 hingga Rp30 ribu," ujar dia.
 
Harga bawang putih sempat menyentuh Rp42.300 per kilogram. Pemerintah merelaksasi ketentuan impor bawang putih. Pasalnya, ketersediaan produk hortikultura itu di pasar semakin minim sehingga memicu lonjakan harga secara signifikan.
 
Gula dan Bawang Putih Dijamin Sentuh Harga Normal
Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo (kedua kiri) meninjau ketersediaan bawang putih di gudang PT Food Station Tjipinang Jaya, Jakarta, Rabu, 18 Maret 2020. Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
 
Baca: India Lockdown, Indonesia Perlu Diversifikasi Impor Gula
 
Proses impor diharapkan semakin mudah dan sederhana sehingga stok akan kembali besar dan mampu menekan harga. Kebijakan relaksasi ini berupa penghapusan pengaturan wajib tanam lima persen yang selama ini diterapkan kepada para importir.
 
Terkait negara sumber impor, Tiongkok masih tetap menjadi pilihan utama. Pasalnya, untuk kegiatan perdagangan lintas negara, otoritas setempat maupun pemerintah Indonesia tidak menerapkan pembatasan atau penghentian.
 

(OGI)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif