sosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Asosiasi Produsen Serat Sintesis dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) kembali menemui Presiden Joko Widodo. Medcom.id/Damar Iradat.
sosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Asosiasi Produsen Serat Sintesis dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) kembali menemui Presiden Joko Widodo. Medcom.id/Damar Iradat.

Pemerintah Siapkan Kawasan Khusus Industri Tekstil

Ekonomi industri tekstil kawasan industri
Damar Iradat • 21 November 2019 11:30
Jakarta: Sejumlah pengusaha tekstil yang tergabung dalam Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Asosiasi Produsen Serat Sintesis dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) kembali menemui Presiden Joko Widodo. Mereka membahas peningkatan nilai dan kuantitas ekspor tekstil serta pembangunan apparel park.
 
"Karena kita sudah mulai siapkan, sebuah kawasan atau yang dulu ingin dibangun adalah apparel park atau sebuah kawasan untuk dari mulai bahan baku sampai nantinya industrinya semuanya berada di satu tempat," kata Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 21 November 2019.
 
Kepala Negara mengatakan Menteri Keuangan Sri Mulyani juga akan membicarakan pusat logistik berikat. Menurutnya, di kawasan tersebut banyak barang-barang industri dalam negeri yang menjadi pesaing berat di pasar global.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saya rasa tiga hal itu yang pada pagi hari ini, tidak keluar dari itu. Silakan mengenai pningkatan ekspor terlebih dahulu," tuturnya.
 
Sebelumnya, Presiden Jokowu juga telah meminta masukan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Asosiasi Produsen Serat Sintesis dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) pada 16 September 2019. Jokowi menilai kondisi usaha tekstil di Indonesia belum mengalami peningkatan.
 
Pertumbuhan pasar tekstil dan produk tekstil Indonesia di pasar global cenderung stagnan di angka 1,6 persen. Angka itu tertinggal jauh bila dibandingkan Tiongkok sebesar 31,8 persen, disusul dua pesaing Indonesia yakni Vietnam (4,59 persen) dan Bangladesh (4,72 persen) pada 2018.
 
Ekspor tekstil dan produk tekstil pada triwulan II-2019 juga turun 0,6 persen dari periode yang sama tahun lalu. Dia menyebut hal ini disebabkan tingginya biaya produksi lokal, fasilitas, dan kebijakan dagang berpihak pada impor. Selain itu, kurangnya perencanaan jangka panjang yang berdampak pada minimnya investasi.
 
Dalam pertemuan kali ini, Jokowi didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Kepala BKPM Bahlil Lahadalia. Selain itu, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, serta juru bicara Presiden Fadjroel Rahman.
 
Adapun pengusaha tekstil yang hadir dalam pertemuan itu antara lain, Ketua Umum API Ade Sudrajat, Direktur Utama PT Sritex Iwan Lukminto, Wakil Direktur PT Pan Brothers Anne Patricia Sutanto, Direktur Utama PT Rayon Utama Mandiri Purnomo.
 
Kemudian Wakil Direktur PT Busana Apparel Marisa Manimanen, Direktur Utama PT Mulai Kniting Hanan Supangkat, Direktur Utama PT Jaya Perkasa Garment Bintoro Dibyoseputro, dan Direktur Utama PT Adikencana Mahkotabuana Joy Citradewi.
 
Selain itu, Ketua Umum APSyFI sekaligus Presiden Direktur PT Asia Pacific Fiber Ravi Shankar, Sekretaris Jenderal APSyFI Redma Gita Wirawasta, Direktur PT Polyfun Canggih Sinatra Arti Ardi, Presiden Direktur Indorama Grup S.P Lohia, serta Direktur PT Asia Pacific Rayon Basrie Kamba.
 

(DRI)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif