Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto. FOTO: Medcom.id/Ilham Wibowo.
Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto. FOTO: Medcom.id/Ilham Wibowo.

Industri Keramik Paling Terdampak Kenaikan Gas

Ekonomi pengelolaan gas bumi gas
Ilham wibowo • 25 September 2019 18:15
Jakarta: Sektor industri keramik mendapat kerugian paling besar dengan harga gas nasional yang tak kunjung kompetitif. Energi gas ini memiliki peran penting lantaran menyerap 35 persen dari total biaya produksi perusahaan.
 
Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto turut mempertanyakan implementasi nyata Perpres Nomor 40/2016 tanggal 3 Mei 2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi sebesar USD6 per MMBTU. Semangat untuk meningkatkan kinerja pun terus turun lantaran upaya yang tadinya untuk meningkatkan daya saing produk tak kunjung terealisasi setelah tiga tahun berjalan.
 
"Memang paling penting bagi kami adalah harga gas, karena 35 persen biaya produksi kami di gas, kami ingin menanyakan lanjutan daripada Pepres 40/2016 ini," kata Edy ditemui usai diskusi harga gas di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Rabu, 25 September 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pengusaha keramik mendukung penuh langkah Presiden Joko Widodo yang menginginkan industri produktif, inovatif dan kompetitif. Namun demikian, investasi yang dikeluarkan untuk meremajakan mesin tak bergerak sejalan dengan dukungan pemerintah di sektor gas nasional yang kini dikelola Perusahaan Gas Negara (PGN).
 
"Semua sudah kami ikuti agar inovatif dengan pemanfaatan teknologi, mereka menggunakan killer tungku pembakar yang ramah lingkungan, kami juga mencari pangsa pasar ekspor tapi tetap tidak bisa bersaing karena harga dasar gasnya terlalu jomplang," ungkapnya.
 
Industri keramik nasional yang tersebar di tiga wilayah dominasi saat ini menerima standar harga gas PGN yang berbeda. Kebutuhan gas di Jawa Barat, kata Edy, pabrik mesti membayar gas USD9,17 per MMBTU, sementara Jawa Timur USD7,98 per MMBTU dan Sumatera USD9,2 per MMBTU.
 
"Mengapa industri keramik dimasukkan ke dalam Perpres karena memang mati hidup kami sangat tergantung pada gas, jadi memang gas ini sumber paling utama," paparnya.
 
Industri keramik Tanah Air makin sulit dengan hadirnya surat edaran PGN yang akan melakukan penyesuaian dengan menaikan harga jual gas per 1 Oktober 2019. Persaingan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam yang kini telah kedatangan investasi besar pun kian berat lantaran mereka ditunjang harga gas yang merata USD7-USD8,5 per MMBTU.
 
"Kenapa bisa begitu ya karena ada subsidi dari pemerintahnya, kami memohon dukungan pemerintah, sudah ada hitungannya kalau harga gas turun ini sebagai pendorong ekonomi yang bisa memberikan multiplayer effect, pemerintah juga mendapatkan kembali dengan penghasilan yang lain," tuturnya.
 
Sekjen Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan pihaknya telah memasukkan sektor keramik dalam daftar rekomendasi penerima manfaat Perpres 40/2016. Surat yang dilayangkan sejak 2017 sedianya bisa langsung direspon Kementrian ESDM untuk mempertimbangkan upaya peningkatan daya saing industri.
 
"Industri keramik kita dulu rangking keempat dunia secara kapasitas produksi bisa besar tapi sekarang turun jadi peringkat ketujuh, salah satunya karena gas yang mahal dan kita harus bersaing dengan negara lain," ujarnya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif