Influencer dapat mempengaruhi pengikutnya untuk menyukai suatu produk, membeli, dan loyal dengan produk tersebut. (Foto: Shutterstock)
Influencer dapat mempengaruhi pengikutnya untuk menyukai suatu produk, membeli, dan loyal dengan produk tersebut. (Foto: Shutterstock)

Social Media Week Jakarta 2019, Kupas Untung Rugi Influencer Marketing

Ekonomi Social Media Week Jakarta
Gervin Nathaniel Purba • 17 September 2019 18:19
Jakarta: Dalam beberapa tahun belakangan, influencer marketing dijadikan sebagai sebuah strategi untuk meningkatkan citra brand (brand image) dan kesadaran brand (brand awareness) agar memengaruhi daya beli konsumen terhadap suatu produk.
 
Alasan penggunaan influencer marketing dalam strategi pemasaran tersebut karena ada perubahan tren dan pergeseran perhatian audiens yang sebelumnya mudah dipengaruhi iklan, kini cenderung memilih role model atau influencer.
 
Influencer dipercaya memiliki pengaruh signifikan terhadap para pengikut (followers), termasuk dalam hal memengaruhi pengikut untuk menyukai suatu produk, membeli, dan loyal dengan produk tersebut.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam perjalanannya, strategi menggunakan jasa influencer dalam sebuah aktivitas pemasaran ternyata memunculkan fakta negatif dan menuai kritik. Influencer justru menjadi kendala dalam proses strategi pemasaran suatu bisnis baru.
 
Ada beberapa fakta di lapangan yang menunjukkan hal tersebut. Contoh, fakta banyaknya influencer yang mengambil untung dan kerap menggunakan
kata kunci exposure yang belum dapat diterjemahkan sebagai nilai tukar dalam proses peningkatan daya beli suatu produk.
 
Ironisnya, influencer bertindak kurang terpuji dengan menggunakan mesin untuk membeli like, sehingga bisnis-bisnis baru yang belum memperoleh profit justru semakin merugi dengan exposure tersebut.
 
Berbagai fakta di lapangan juga menunjukkan adanya sejumlah pemilik usaha, kafe, atau bisnis baru yang melayangkan kritik karena usaha mereka hanya dihargai dengan exposure. Tidak sebanding dengan modal bisnis yang dikeluarkan.
 
Kemudian, mulai bermunculan ekspresi negatif kepada influencer. Misal, tagar #InfluencerAreGross atau We are anti-influencer sebagaimana yang diungkapkan pelaku bisnis baru, baik dalam maupun luar negeri.
 
Permasalahan tersebut dikupas pada acara Social Media Week (SMW) Jakarta 2019 yang akan digelar pada 11-15 November, di The Hall, Senayan City, Jakarta. Tema yang diusung yaitu Stories: With Great Influence Comes Great Responsibility.
 
"SMW Jakarta 2019 mengajak seluruh audiens dan masyarakat luas untuk lebih meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab dalam menyebarkan suatu konten dengan cara mendidik, mengarahkan, dan menumbuhkan iklim yang selaras di media sosial," ujar Chairman Social Media Week Jakarta dan Chief Executive Officer PT Merah Cipta Media Antonny Liem, dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa, 17 September 2019.
 
"Akan mengajak berbagi dan bertindak, karena hal ini bukan hanya merupakan tanggung jawab dari platform, namun juga para pengguna untuk membalikkan tren meningkatnya penyebaran informasi dan hal negatif," ujar Antonny.
 
Informasi terkini mengenai SMW Jakarta 2019 dapat diperoleh melalui website smwjakarta.com. Tiket Social Media Week Jakarta 2019 Anda beli melalui Tiket.com.

 

(ROS)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif