Illustrasi. Dok : Medcom.
Illustrasi. Dok : Medcom.

Penjelasan Organisasi Peternak soal Harga Ayam yang Jomplang

Ekonomi harga ayam
Husen Miftahudin • 09 Juli 2019 21:04
Jakarta: Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) Sugeng Wahyudi menjelaskan jomplang-nya harga daging ayam ras atau broiler. Di tingkat peternak, ayam dihargai Rp8.000 per kg, jauh dari harga acuan pembelian sesuai Permendag Nomor 96 Tahun 2018 yang dipatok Rp18 ribu per kg. Sementara di konsumen, harga daging ayam segar (hot carcas) dihargai sebesar Rp34 ribu per kg.
 
Alasan pertama jomplang-nya harga lantaran berlebihnya pasokan (over supply) bibit ayam atau day old chich (DOC). Berdasarkan data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) yang dipaparkan Sugeng, saat ini jumlah pasokan DOC mencapai 68 juta. Padahal kebutuhannya hanya sekitar 60 jutaan.
 
"Potensi DOC saat ini kan over supply, lebih. DOC ini kalau dilanjutkan jadi ayam, ini akan terjadi kelebihan suplai ayam hidupnya," ujar Sugeng kepada Medcom.id saat dihubungi, Jakarta, Selasa, 9 Juli 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Persoalan ini sempat ditangani Dirjen PKH Kementan dengan mengeluarkan surat edaran pada 19 Maret 2019. Dalam surat edaran tersebut, seluruh perusahaan pembibitan diminta mengurangi produksi day old chick final stock (DOC FS) sebesar 10 persen.
 
Sempat membaik, namun harga kembali turun sejak pekan kedua Juni. Disparitas harga ayam di tingkat peternak dan konsumen kembali merenggang, kondisi ini membuat peternak berang hingga membagi-bagikan ayam secara gratis.
 
Alasan selanjutnya yang membuat harga ayam jomplang adalah panjangnya rantai distribusi. Menurut Sugeng, peternak butuh dua hingga tiga mata rantai untuk memasarkan daging ayamnya hingga sampai ke tangan konsumen.
 
"Memang peternak tidak bisa langsung memasarkan ke satu distributor kemudian dipotong di (end user), itu tidak. Paling tidak melalui dua hingga tiga mata rantai, itu baru sampai ke konsumen akhir di pasar-pasar tradisional," ungkap dia.
 
Namun Sugeng tak bisa menyalahkan broker yang dianggap memainkan harga distribusi ayam. Ia justru meminta pembenahan di sisi hulu produksi ayam ras.
 
"Jadi ini bukan semata-mata salah brokernya, mereka kan memang mengambil kesempatan, mau ditindak juga kan enggak bisa. Tetapi justru menurut saya dari sisi hulunya yang harus disempurnakan. Penawaran dan permintaan itu kan predictable, jika para pelaku itu jujur," tutup Sugeng.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif