Ada tiga layanan pekerjaan yang diberikan Big Agent bagi pelaku bisnis, yakni survei pasar (14,29%), promosi (74,52%), dan akuisisi (4,25%). Sistem kerja yang fleksibel memberi kesempatan besar bagi masyarakat seluruh kalangan untuk berkesempatan mengubah waktu luang menjadi uang dan menjadi mandiri dengan penghasilan tambahan.
Founder dan CEO Ralali.com, Joseph Aditya mengatakan pengguna Big Agent (Sobat Agent) mengumpulkan data-data untuk mengenali konsumen lebih baik (know your customer). Selain itu, mereka juga memetakan pola transaksi pembeli (buyer profile).
"Pengolahan data tersebut menjadi rujukan tepat sasaran bagi kami untuk memahami berbagai kebutuhan dalam satu ekosistem digital. Lebih dari itu, kami juga terus memberikan kemudahan bagi pelaku bisnis dengan akses fintech dimana Big Agent telah menghubungkan lebih dari 1.500 pelaku usaha dengan partner fintech Ralali.com dengan total nilai pendanaan mencapai Rp18 miliar," ungkap Joseph dalam keterangannya, Jakarta, Jumat, 30 Agustus 2019.
Chief Operating Officer Ralali.com, Alexander Lukman menambahkan kehadiran Big Agent dan pengembangan ekosistem digital (fintech dan digital goods) adalah dua dari banyak transformasi digital yang telah dilakukan Ralali.com. Tujuannya, untuk memberikan kemudahan bertransaksi dan berbisnis tanpa batas, didukung oleh tenaga kerja berkualitas dan inovasi teknologi terkini.
Ia menjelaskan, fintech Ralali.com mencakup empat produk di dalamnya yaitu payment, financing, insurance, dan investment. "Saat ini, Sobat Agent telah melakukan edukasi akses fintech Ralali.com kepada ribuan UMKM Indonesia dalam waktu kurang dari tiga bulan yang merupakan bagian dari upaya Ralali.com untuk memberdayakan satu juta UMKM."
Produk fintech Ralali.com merupakan hasil kolaborasi dengan para partner yang dihadirkan dalam daftar pekerjaan di platform Big Agent. Para Sobat Agent bisa turun ke lapangan secara langsung untuk mengedukasi UMKM tentang manfaat yang didapat dengan hadirnya pembiayaan maupun asuransi untuk menunjang kemajuan dan proteksi bisnis pelaku usaha lintas kategori industri.
"Mulai dari industri jasa makanan, usaha perkantoran, usaha otomotif, bahan bangunan, kebutuhan FMCG, dan general merchandises. Selain fintech, juga dilakukan pengembangan lanjutan untuk digital goods dalam mendukung kebutuhan usaha operasional sehari-hari, mencakup pembelian pulsa, paket data, PLN, PDAM, BPJS, dan uang elektronik," tutup Alexander.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News