Asuransi Jasindo Siapkan 5 Program Strategis di 2019
Direktur Utama Asuransi Jasindo Edie Rizliyanto (tengah). Foto: Dokumen istimewa.
Jakarta: PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) atau Asuransi Jasindo menyiapkan strategi khusus untuk menyambut tantangan pada 2019 sejalan dengan transformasi revolusi industri 4.0. Perusahaan asuransi pelat merah itu punya lima strategi.

Direktur Utama Asuransi Jasindo Edie Rizliyanto membeberkan lima poin strategi bisnis Asuransi Jasindo di 2019. Di antaranya peningkatan kompetensi SDM dan budaya teknologi, perluasan market share berkolaborasi dengan fintech, peningkatan brand image dengan digital marketing, penambahan produk korporasi dan retail, serta mempermudah proses klaim asuransi.

"Strategi ini diharapkan dapat meningkatkan performa Asuransi Jasindo di tahun depan. Perusahaan juga telah menargetkan premi bruto pada 2019 sekitar Rp6,2 triliun," ujar Edie di Jakarta, Rabu, 21 November 2018.

Edie optimis hal itu bisa tercapai karena berpijak pada kesuksesan tahun lalu. Hingga triwulan III-2018, posisi aset beserta liabilitas dan ekuitas Asuransi Jasindo sebesar Rp12,757 triliun atau naik sebesar Rp3,5 triliun dari periode yang sama tahun lalu.

Untuk laporan laba rugi, jelas Edie, premi bruto gabungan per 30 September 2018 sebesar Rp3,379 triliun atau 58,18 persen dari anggaran. Capaian tersebut naik 105,95 persen atau setara Rp189 miliar bila dibandingkan dengan posisi September 2017.

"Selanjutnya untuk klaim bruto gabungan per September 2018 sebesar Rp1,747 triliun atau mencapai 53,4 persen terhadap anggaran. Apabila dibandingkan dengan Agustus 2017, mengalami penurunan klaim sebesar Rp674 miliar," bebernya.

Adapun hasil investasi per 30 September 2018 sebesar Rp139,488 miliar atau setara 73,04 persen dari anggaran dan mengalami peningkatan sebesar Rp76,434 miliar atau 221,22 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2017. 

Di bagian lain, terang Edie, Asuransi Jasindo akan melakukan aksi korporasi yang berfokus pada digitalisasi penggarapan bisnis korporasi dengan pendekatan costumer-focus, intensifikasi dan ekstensifikasi penggarapan bisnis BUMN beserta anak usaha BUMN dan BUMS.

"Selain itu fokus mengoptimalisasi channeling bisnis broker dan perbankan korporasi, serta restrukrisasi pengelolaan key account business dengan pendekatan costumer-focus dan penyederhanaan birokrasi," tutup Edie.



(HUS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id