Naik Turun Rupiah Bikin Galau Pengusaha Mamin
Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman - - Foto: Medcom.id/ Ilham Wibowo
Jakarta: Penguatan nilai mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) nyatanya tak seketika berdampak positif bagi pengusaha makanan dan minuman (Mamin). Grafik perubahan yang cepat disikapi dengan kegalauan dalam menentukan strategi. 

"Rupiah menguat lebih baik? Ini belum tentu. Kita ingin ada nilai yang stabil, terlalu kuat juga bingung," ujar Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman ditemui dalam forum diskusi di Hotel Ibis Harmoni, Jakarta, Senin 3 Desember 2018. 

Pada pembukaan Senin, 3 Desember 2018, rupiah tercatat menguat ke level Rp14.270 per USD. Padahal beberpa pekan belakangan, mata uang Rupiah sempat bertengger di level lebih dari Rp 15.000 per USD. 

Kondisi yang tak stabil ini dianggap kurang baik bagi kelangsungan pertumbuhan bisnis. Pelaku usaha tak bisa secara mendadak melakukan perubahan strategi secepat perubahan nilai tukar rupiah. Sebagaian besar bahan baku yang telah diimpor pada saat nilai rupiah melemah pun jadi persoalan tersendiri.  

"Sebelum ini banyak buyer dari luar negeri yang datang, akhirnya produsen pakai basis Rp15 ribu, tiba-tiba saat ini anjlok disaat kita dulu beli bahan baku dengan kontrak tinggi," paparnya. 

Adhi menuturkan para pengusaha menginginkan nilai Rupiah yang kian stabil pada 2019. Untuk kondisi saat ini, kata dia, nilai terbaik yang bisa diterima pengusaha Mamin berada pada level Rp 14.500-Rp15.000 per USD. 

"Pada saat dolar menguat kami ditekan untuk memanfaatkan momentum ekspor. Kami ingin yang penting stabil jangan naik turun karen pangaruh pada ekspor," tandasnya. 






(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id