Ilustrasi pengguna Go-Pay. FOTO: Medcom.id.
Ilustrasi pengguna Go-Pay. FOTO: Medcom.id.

Go-Pay Tidak Terancam Rencana Merger DANA-OVO

Ekonomi go-pay ovo
Nia Deviyana • 20 September 2019 16:08
Jakarta: Penyedia layanan dompet digital, Go-Pay, mengaku tidak merasa tersaingi dengan rencana merger DANA-OVO.
 
Head of Corporate Communication Go-Pay Winny Triswandhani mengatakan pihaknya memahami pentingnya mendukung gerakan nontunai yang digaungkan pemerintah.
 
"Mengenai kompetisi, menurut kami yang penting adalah bagaimana kita bisa bergandengan tangan untuk membantu seluruh masyarakat Indonesia. Kami akan selalu bekerja keras untuk memberikan alasan kuat bagi pengguna agar selalu memilih Go-Pay," ujar Winny saat dihubungi Medcom.id, Jumat, 20 September 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sejak diluncurkan tiga tahun lalu, kata Winny, Go-Pay telah menjadi uang elektronik yang paling banyak digunakan di Indonesia. Winny tidak menutup kemungkinan ke depan Go-Pay juga akan berkolaborasi dengan untuk menggerakan pemakaian nontunai.
 
"Fokus kami saat ini adalah untuk terus menggandeng berbagai pihak, baik pemerintah, institusi keuangan, perusahaan swasta hingga perusahaan kelas dunia agar seluruh lapisan masyarakat Indonesia dapat menikmati keuntungan pembayaran nontunai," paparnya.
 
Sebelumnya dikabarkan bahwa Grab sedang dalam pembicaraan untuk menggabungkan perusahaan pembayaran digital OVO dengan DANA. Aksi merger ini disebut-sebut sebagai langkah menyaingi Gojek.
 
"Diskusi bersifat pribadi dan masih pada tahap awal," kata sumber tersebut seperti dikutip dari Tech in Asia, Rabu, 11 September 2019.
 
Jika kesepakatan terbentuk, Grab akan membeli saham mayoritas di Ant Financial, yang menyuntik DANA yang selama ini dipayungi PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (Emtek). Setelah itu, Grab akan menggabungkannya dengan OVO yang sahamnya telah dimiliki Grab.
 
"Ini bagian dari pertempuran Grab-Gojek," kata salah satu sumber.
 
Baik Grab, OVO, maupun DANA menolak berkomentar. Begitu juga dengan Emtek, Ant Financial, dan SoftBank yang menolak berkomentar dalam waktu dekat.
 
Gojek dan Grab telah berkompetisi di berbagai bidang seperti penyedia pemesanan kendaraan dan pengiriman makanan. Keduanya merupakan startup teratas di Asia Tenggara. Grab memiliki valuasi USD14 miliar, sedangkan Gojek memiliki valuasi USD10 miliar.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif