Bulog tak Mau Timbun Stok Gula Lagi
Direktur Utama Bulog Budi Waseso. Medcom/Eko Nordiansyah.
Jakarta: Pabrik Gula (PG) BUMN dan swasta diusulkan mengubah sistem bagi hasil menjadi sistem beli putus ketika membeli hasil tebu dari petani. Hal ini cukup meringankan beban Bulog sebagai perum yang memiliki kewajiban sebagai penyedia stok sembako.

Direktur Utama Bulog Budi Waseso menuturkan pembelian gula petani di 2018 dengan netto Rp9.700 per kilogram (kg) cukup memberatkan perum Bulog dari aspek anggaran komersial dan kapasitas yang memadai. 

Selain itu kondisi pasar gula yang semakin menurun semakin menyulitkan Bulog untuk menjual gula karena harganya kurang bersaing. Apalagi sampai dengan 24 September 2018 Bulog masih memiliki stok gula sebanyak 198 ton dengan nilai sebesar Rp1,9 triliun.  

"Pasar gula cenderung jenuh dengan harga gula alami penurunan dan PTPN melakukan lelang gula periode september 2018 pada harga Rp8.500 per kg sampai dengan Rp9.180 per kg," kata Buwas dalam surat itu.

Maka Bulog berharap pada Oktober 2018 dan seterusnya seluruh PG BUMN dapat melakukan pembelian tebu petani dengan sistem beli putus dan hasil giiling dikelola langsung oleh masing-masing PG. 




(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id