Pelemahan Rupiah Buat Industri Tekstil Tertekan

Kautsar Widya Prabowo 24 Mei 2018 08:31 WIB
rupiah melemahindustri tekstilkurs rupiah
Pelemahan Rupiah Buat Industri Tekstil Tertekan
Ilustrasi (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) yang menembus level Rp14.000 per USD memberikan efek tersendiri terhadap aktivitas bisnis di Tanah Air. Bahkan, industri Tekstil dan Produk Tekstik (TPT) menjadi salah satu industri yang tertekan akibat perkasanya USD sejalan membaiknya perekonomian AS.

Sekertaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma menjelaskan, meski pelemahan nilai tukar rupiah lebih didominasi faktor eksternal namun tidak ada salahnya jika pemerintah lebih maksimal dalam menstabilkan neraca pembayaran. Setidaknya, pelemahan bisa ditahan dan tidak membuat rupiah melemah lebih dalam.

"Jangan anggap ini masalah ringan hanya karena mata uang negara lain juga ikut melemah. Ekonomi kita butuh stabilitas," tegas Redma, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta Kamis, 24 Mei 2018.

Menurutnya hal itu kian diperparah usai berlakunya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) 64 tahun 2017 yang diindikasikan lebih memfasilitasi produk impor dan menyebabkan impor melonjak lebih tinggi sebanyak 19,6 persen dibandingkan dengan kinerja ekspor di kuartal I-2018 yang hanya mencapai 7,9 persen secara tahun ke tahun.

Dirinya menilai kondisi itu memberikan pengaruh terhadap terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap USD. "Neraca perdagangannya masih surplus USD1,29 miliar, tapi turun dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya," tukasnya.

Lebih lanjut, tukasnya, usai dilakukan penertiban impor borongan penjualan, industri TPT di kuartal IV-2017 dan kuartal I-2018 terlihat tumbuh 30 persen. Namun, sejak Permendag 64/2017 berlaku di kuartal II-2018, permintaan dari pasar dalam negeri mulai sepi karena sudah digantikan produk impor melalui Pusat Logistik Berikat (PLB).

"Kalau memang Industri Kecil Menengah (IKM) yang butuh bahan baku, hari ini kita akan lihat produk IKM yang membanjiri pasar, bukan produk impor," tegasnya, seraya menambahkan bahwa pihaknya tengah meminta agar Permendag 64/2017 dicabut dan dikembalikan ke Permendag 85/2016 di mana impor bahan baku diatur berdasarkan kebutuhan industri.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id