Ilustrasi. (FOTO: MI/Rommy Pujianto)
Ilustrasi. (FOTO: MI/Rommy Pujianto)

2018, Tahun Gonjang-ganjing Suku Bunga Acuan BI

Ekonomi bank indonesia Kaleidoskop 2018
Husen Miftahudin • 28 Desember 2018 14:33
Jakarta: Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) alias BI-7 Days Reverse Repo Rate (BI-7DRRR) sepanjang 2018 cukup agresif. Bank sentral menaikkan sebanyak enam kali suku bunga dengan total kenaikan 175 basis points (bps).

Di tahun lalu, kebijakan BI jauh lebih longgar. Maklum, di 2017 gejolak global terkait dengan perdagangan dan keuangan tak seketat tahun ini.

Berdasarkan catatan Medcom.id yang dinukil dari laman resmi BI, suku bunga acuan di tahun lalu (Januari 2017) dibuka 4,75 persen dan ditutup 4,25 persen (Desember 2017). Otoritas dua kali menurunkan suku bunga acuan dengan total 50 bps.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Laju inflasi yang stabil ditambah melonggarnya kebijakan The Federal Reserve terhadap Fed Fund Rate membuat suku bunga BI stabil dan cenderung menurun di tahun lalu. Pergerakan ini bahkan bertahan hingga April 2018. Kenaikan Pertama 2018

Mei 2018 menjadi awal pengetatan suku bunga acuan. Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada pertengahan bulan memutuskan untuk menaikkan suku bunca acuan menjadi 4,50 persen, dari 4,25 persen.

Gubernur BI saat itu, Agus Martowardojo menyatakan kebijakan yang ditempuh otoritas dalam menaikkan subu bunga acuan merupakan bagian dari bauran kebijakan bank sentral dalam menjaga stabilitas perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Tak sampai di situ, Mei 2018 menjadi momen penting bagi perjalanan BI. Dewan gubernur termasuk gubernur dirombak, Agus didepak. Perry Warjiyo menggantikan posisi Agus sebagai Gubernur BI.

Di bulan yang sama, RDG kembali digelar, tepatnya pada 29-30 Mei 2018. Alasannya, rupiah tak kunjung membaik meski BI-7DRRR sudah dinaikkan 25 bps di pertengahan bulan. Pada saat itu, gerak mata uang Garuda pertama kali menyentuh level pesimis di posisi Rp14 ribu per USD.

Alhasil, otoritas memutuskan untuk kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 4,75 persen. Kenaikan suku bunga juga melihat gejolak The Fed, BI memandang adanya kemungkinan kenaikan suku bunga acuan Fed Fund Rate yang lebih tinggi dan meningkatnya risiko di pasar keuangan global.




Kenaikan Suku Bunga Terbesar

Sebulan berselang, bank sentral melakukan RDG. Putusannya membuat perbankan tercengang. Perry mengetok palu, suku bunga acuan naik hingga 100 bps menjadi 5,25 persen. Kenaikan suku bunga pada Juni 2018 ini menjadi yang terbesar dalam 2018. Perry mengakui stance kebijakan otoritas kali ini berubah dari netral menjadi cenderung ketat.

"Ranahnya sudah ke ranah kebijakan moneter ketat," ungkap Perry kala itu.

Dasar pertimbangan putusan bank sentral ini adalah sebagai langkah pre-emptive BI untuk memperkuat stabilitas ekonomi, utamanya stabilitas nilai tukar rupiah terhadap perkiraan kenaikan Fed Fund Rate hingga empat kali dalam setahun. Selain itu sebagai antisipasi meningkatnya risiko di pasar keuangan global.

Di Juli 2018, BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,25 persen. Langkah bank sentral masih sama, mengimbangi tekanan atas ketidakpastian ekonomi global.

Pada RDG Agustus 2018, bank sentral menaikkan kembali suku bunga acuan menjadi 5,50 persen. Kali ini, Perry menyebut langkah BI sebagai upaya untuk mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik.

"Ini untuk memperkuat respons bauran kebijakan dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," jelas Perry dalam konferensi pers usai RDG di kompleks perkantoran BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu, 15 Agustus 2018.

Kenaikan Suku Bunga untuk Meredam CAD

Bank Indonesia kembali menaikan suku bunga acuannya sebesar 25 bps pada September 2018 menjadi 5,75 persen. Langkah ini dilakukan bank sentral sebagai upaya untuk menurunkan defisit transaksi berjalan alias current account deficit (CAD) ke dalam batas yang aman.

Perry bilang, upaya bank sentral menurunkan CAD agar nilai tukar rupiah terhadap USD stabil. Berdasarkan laporan pada kuartal II-2018, CAD RI tercatat defisit sebanyak USD8 miliar atau setara tiga persen dari produk domestik bruto (PDB).

"Langkah fundamental untuk menstabilkan kurs adalah defisit transaksi berjalan harus segera diturunkan," beber Perry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 5 September 2018.




Di Oktober 2018, BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen. Keputusan tersebut dinilai konsisten dengan upaya otoritas untuk menurunkan CAD ke dalam batas yang aman.

Sebulan kemudian atau pada November 2018, bank sentral menaikkan suku bunga acuan 25 bps menjadi 6,00 persen. Langkah ini tak berubah dengan kebijakan bulan sebelumnya, yakni menjaga CAD ke dalam batas yang aman.

Namun demikian, posisi CAD pada triwulan III-2018 dan diumumkan pada November 2018 meningkat sejalan dengan menguatnya permintaan domestik. Defisit transaksi berjalan tercatat sebesar USD8,8 miliar atau 3,37 persen dari PDB, lebih tinggi ketimbang posisi di triwulan sebelumnya sebesar USD8 miliar atau 3,02 persen PDB.

Di bulan terakhir 2018, BI mempertahankan suku bunga acuan di posisi 6,00 persen. Langkah ini sebagai upaya untuk mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik, termasuk mempertimbangkan tren pergerakan suku bunga global dalam beberapa bulan ke depan.

"Termasuk mendorong ekspor dan menurunkan impor sehingga defisit transaksi berjalan dapat menurun sesuai target," tutup Perry.


(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi