Pelaku Industri Otomotif Masih Meraba Tahun Politik
General Manager Sales Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) Yohanes Pratama. Medcom/Ilham Wibowo.
Jakarta: Pelaku industri otomotif belum berani mematok target pertumbuhan bisnis di tahun politik terutama jelang Pemilu 2019. Kenaikan penjualan produk dinilai bakal terpengaruh oleh regulasi dari sosok yang bakal mempimpin negara untuk periode selanjutnya.

"Tahun depan tahun politik dan kita belum prediksi secara confident pasar komersial seperti apa, dengan melihat hasil election apakah market komersial ini akan tetap baik," ujar General Manager Sales Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) Yohanes Pratama dalam sebuah diskusi di Go Work FX Sudirman, Jakarta, Rabu, 21 November 2018.

Menurut Yohanes, hingga akhir 2018 catatan penjualan produk masih sesuai target perusahaan yakni meningkat 20 persen. Proyeksi itu optimistis tercapai lantaran didorong dengan rampungnya proyek infrastruktur nasional serta pertumbuhan ekonomi digital.

"Pasar komersial sekarang mudah dibaca, infrastruktur masif dan komoditas juga membaik," ungkapnya.

Ia juga mengharapkan proyeksi Bank Indonesia (BI) yang memperkirakan ekonomi 2019 akan tumbuh 5,1-5,5 persen bisa terealisasi. Nilai tukar mata uang pun perlu terjaga untuk tetap  meberikan stimulus menutupi ongkos belanja bahan baku yabg masih impor.

"Komponen impor 50-60 persen, kita terus studi untuk menaikan lokalisasi karena nanti kaitannya dengan dolar dan yen, kita coba tekan itu," tutur Yohanes.

Komponen impor masih belum bisa dihindari sebagai bagian dari belanja modal produksi kendaraan. Namun demikian, pelaku industri otomotif saat ini tetap masih diuntungkan dengan memanfaatkan kelonggaran pajak yang diberikan oleh pemerintah.

"Engine component, transmission component masih impor, di luar itu seperti chasis dan body mayoritas sudah lokal, kita juga bangun expertise kita di situ," pungkas dia.



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id