Ilustrasi (MI/USMAN ISKANDAR)
Ilustrasi (MI/USMAN ISKANDAR)

Investasi Emas Masih Primadona di Tahun Politik

Ekonomi emas komoditas
Angga Bratadharma • 28 Januari 2019 10:35
Jakarta: Harapan dan peluang masih terbuka luas untuk pertumbuhan pasar Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) di tahun ini, meski akan digelar pesta demokrasi pada April 2019. Potensi terjadinya dinamika pada harga-harga komoditas itu pasti, namun pasar akan tetap stabil sehingga investor jangan sampai melakukan aksi wait and see.
 
"Hal itu karena beberapa permintaan komoditas seperti kopi dan emas diprediksi masih tetap tinggi," ungkap Chief Business Officer PT Rifan Financindo Berjangka Teddy Prasetya, dalam acara Investment Outlook bertajuk "Kemilau Harga Emas di Tahun Babi 2019", di Jakarta, Jumat malam, 25 Januari 2019.
 
Teddy menilai di tengah ketidakpastian ekonomi global yang belum mereda hingga sekarang dan mengawali tahun politik di 2019, informasi yang relevan seputar PBK akan meningkatkan kepercayaan diri bagi para pelaku investasi untuk menanamkan investasi mereka di produk yang tepat.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dalam hal ini emas, diyakini akan menjadi produk derivatif primadona di tahun ini mengingat sifatnya yang safe haven dan nilanya yang cukup stabil," tutur Teddy.
 
Sementara itu, Direktur Utama Bursa Berjangka Jakarta Stephanus Paulus Lumintang menambahkan, berinvestasi di emas melalui bursa berjangka perlu menjadi pertimbangan karena memberikan keuntungan. Bahkan, berinvestasi di emas bisa mengimbangi kenaikan tingkat inflasi tiap tahunnya.
 
"Apakah biaya pendidikan Rp600 juta bisa mengimbangi kenaikan inflasi dalam kurun waktu 10 tahun mendatang? Untuk mengimbangi inflasi adalah berinvestasi di emas. Apalagi, investasi di kontrak emas sangat likuid. Beda dengan properti yang memang keuntungannya tinggi tapi tidak langsung karena ada waktu. Kalau emas, lima menit saja bisa likuid di pasar," tukasnya.
 
Lebih lanjut, ia meyakini, investasi di kontrak emas di bursa berjangka akan tetap tumbuh meski memasuki tahun politik. Pasalnya, bursa berjangka memiliki pondasi yang kuat dan tahan terhadap sejumlah gejolak, ditambah dengan potensi yang masih besar di industri ini.
 
"Emas itu pengaruhnya bukan dari Indonesia tapi dari global. Transaksi berjangka akan naik meski ada pesta demokrasi. Kalau historisnya jika dikaitkan politik kita punya pondasi kuat. Kalau angin kita biasa, ada badai kita biasa, ada salju kita ada jaket, kalau panas ada kaos kutang. Kita santai saja karena memang ada dinamikanya sendiri," pungkasnya.
 

(ABD)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif