Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita saat melepas ekspor baja ke Sri Lanka dan Australia. (FOTO: Medcom.id/Ilham Wibowo)
Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita saat melepas ekspor baja ke Sri Lanka dan Australia. (FOTO: Medcom.id/Ilham Wibowo)

Baja GRP Ekspor Perdana ke Sri Lanka dan Australia

Ekonomi baja kementerian perdagangan
Ilham wibowo • 31 Januari 2019 12:57
Bekasi: Produk olahan baja buatan PT Gunung Raja Paksi (GRP) resmi melakukan ekspor perdana ke Sri Lanka dan Australia. Pelepasan dagang internasional itu pun dilakukan Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita.
 
"Ekspor baja PT Gunung Raja Paksi ini merupakan sebuah momentum yang sangat luar biasa," ujar Enggar dalam sambutannya di pabrik PT Gunung Raja Paksi, Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat, Kamis, 31 Januari 2019.
 
Enggar mengapresiasi kinerja PT GRP yang sukses melaksanakan ekspor pertama tahun ini di tengah kondisi ketidakpastian global. Ekspor produk dilakukan untuk 300 ton baja struktur ke Sri Lanka dan 400 ton plat baja ke Australia.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ini dapat menjadi katalis yang sangat penting, untuk tidak saja mendorong pertumbuhan industri domestik, namun juga untuk terus menangkap peluang pasar global dan meningkatkan ekspornasional,” ungkapnya.
 
Besi dan baja, kata Enggar, merupakan komoditas yang sangat penting bagi pembangunan suatu bangsa. Besi dan baja juga merupakan bahan yang dipakai dalam berbagai industri karena sifat-sifatnya yang bervariasi dan fleksibel, mulai dari industri konstruksi dan bangunan, otomotif, sampai dengan peralatan dapur dan rumah tangga.
 
"Kinerja ekspor Indonesia perlahan mulai menunjukkan performa yang cukup baik, dan Kemendag terus melakukan penyesuaian berbagai kebijakan dan regulasi," ujarnya.
 
Total ekspor Indonesia pada 2018 tercatat mengalami kenaikan dari USD168,82 miliar pada 2017 menjadiUSD180,06 miliar pada 2018 atau naik sebesar 6,65 persen. Sedangkan ekspor nonmigas mencapai USD162,65 miliar atau naik sebesar 6,25 persen.
 
Adapun untuk ekspor besi dan bajaIndonesia pada 2018 mengalami kenaikan yang cukup tajam dari USD3,33 miliar pada 2017 menjadi USD5,75 miliar pada 2018 atau naik sebesar 72,40 persen.
 
Sebagai salah satu perusahaan nasional berorientasi ekspor, saat ini GRP berencana meningkatkan eksporproduknya ke berbagai negara di dunia. Enggar menegaskan, kebijakan yang bertujuan mendorong pertumbuhan industri dalam negeri dan daya saing produk ekspor Indonesia tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya peran aktif para pelaku usaha untuk terus berkomitmen mengembangkan usahanya dan mendukung perekonomian nasional.
 
CEO GRP Alouisius Maseimilian mengungkapkan pihaknya optimistis kinerja perusahaan dapat terus meningkat, terutama didukung dengan akan beroperasinya fasilitas blast furnace di semester kedua 2019. Perusahaan dengan 5.000 karyawan ini kini memiliki kemampuan meningkatkan kapasitas produksi bahan baku utama berupa slab yang dihasilkan dari penyerapan sumber bijih besi lokal dan mengurangi biaya produksi.
 
"Fasilitas ini merupakan upaya perusahaan untuk mampu memenuhi kebutuhan baja nasional yang terus meningkat setiap tahunnya, serta membuka peluang penjualan lebih banyak lagi di mancanegara," ujarnya.
 
Anak usaha Gunung Steel Group ini pun berkomitmen memenuhi selera dan kebutuhan pasar. Hal tersebut menjadi elemen penting dalam industri baja nasional yang memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor.
 
"Peningkatan kemampuan tersebut tentunya berkat dukungan pemerintah, terutama Kemendag, yang membantu mengatasi hambatan perdagangan ekspor melalui berbagai regulasi,” pungkasnya.
 

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif