Mendorong Pemanfaatan Zakat untuk Pembangunan Berkelanjutan

Eko Nordiansyah 06 Desember 2018 19:16 WIB
bappenaszakat
Mendorong Pemanfaatan Zakat untuk Pembangunan Berkelanjutan
Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro. (Foto: dok Kementerian PPN)
Jakarta: Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Bambang Brodjonegoro mendorong pemanfaatan zakat. Pasalnya zakat merupakan instrumen potensial yang dapat mendukung agenda pembangunan nasional sekaligus pembangunan berkelanjutan global atau Sustainable Development Goals (SDGs).

"Keselarasan zakat dengan dapat dilihat dari berbagai program zakat yang ditujukan untuk menghapus kemiskinan, mengakhiri kelaparan, mengurangi ketimpangan, serta kemitraan untuk mencapai tujuan," kata dia dalam sambutannya pada acara Konferensi Internasional World Zakat Forum (WZF) 2018, seperti dikutip dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 6 Desember 2018.

Pengumpulan zakat di Indonesia, lanjut dia, tumbuh secara positif dan berkesinambungan diikuti dengan penyerapan zakat yang efektif dan produktif. Pada 2016, dana zakat yang berhasil dihimpun oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) adalah sebesar Rp5 triliun, dan meningkat 27,9 persen pada 2017 menjadi Rp6,2 triliun.

"Pada 2016, zakat yang berhasil disalurkan ke masyarakat adalah Rp2,93 triliun, sementara pada 2017 sebesar Rp4,86 triliun. Dari jumlah penyaluran zakat pada 2017, sebesar 78,08 persen telah disalurkan ke delapan golongan mustahik nasional," ungkap Bambang.

Dirinya mencontohkan pemanfaatan dana zakat di Indonesia, pertama untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Jambi. Dengan skema blended finance, pembangunan PLTMH ini juga melibatkan UNDP, Bank Jambi, Kementerian ESDM, dan Pemerintah Provinsi Jambi.

Bambang menambahkan, dana zakat telah mendukung pembangunan PLTMH untuk menyediakan suplai listrik bagi 806 rumah tangga di empat desa Provinsi Jambi, yaitu Desa Lubuk Bangkar (60 kW), Ngaol (40 kW), Air Liki (40 kW), dan Air Liki Baru (40 kw), sehingga memberikan manfaat bagi 8.000 orang.

"Pemerintah Indonesia melalui Kementerian PPN/Bappenas bekerja sama Baznas telah menyelaraskan program zakat untuk mendukung pencapaian SDGs di Indonesia, seperti pembangunan PLTMH di desa-desa terpencil. Kerja sama global seperti ini sangat diperlukan untuk mengatasi isu penyaluran zakat dan standar pengelolaan zakat secara global," jelas dia.

Selain itu, pemanfaatan zakat juga bisa digunakan untuk program pemberdayaan desa. Dana Zakat, Infak dan Sedekah (ZIS) telah digunakan untuk memberdayakan 1.056 desa yang tersebar di seluruh Indonesia dengan jumlah penerima manfaat pada 2017 hampir mencapai dua juta orang.

Ketiga, Unit Kesehatan Zakat. Pelayanan kesehatan terpadu ini ditujukan untuk semua mustahik, termasuk di daerah bencana, yang mencakup aspek kuratif, preventif, rehabilitatif, serta persuasif. Lima provinsi yang sudah memiliki Unit Kesehatan Zakat ini adalah Provinsi Bangka Belitung, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Timur, serta Sulawesi Selatan.

Keempat, Kesiapan Tanggap Bencana, meliputi program pemulihan rumah terhadap 23 bencana alam di Indonesia sejak 2016, layanan dapur umum di sebelas lokasi bencana, serta pembangunan enam jembatan di empat lokasi bencana. Terakhir, Penyaluran Daging Kurban ke 20 ribu keluarga di 108 desa, 40 kabupaten, dan 20 provinsi Indonesia.

 



(AHL)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id