Illustrasi. Dok : AFP.
Illustrasi. Dok : AFP.

Jelang Idulfitri, Belum Ada Lonjakan Penjualan Tiket Garuda

Ekonomi garuda indonesia lebaran
Nia Deviyana • 21 Mei 2019 23:39
Jakarta: PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk telah menyiapkan 50 ribu kursi tambahan untuk arus mudik dan balik Idulfitri 2019. Namun, Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra mengaku penjualannya masih sepi peminat.
 
"Kita standby 50 ribu kursi tambahan. Tetapi sampai sekarang belum ada lonjakan booking pesawat," ujar pria yang akrab disapa Ari ini saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR, Selasa, 21 Mei 2019.
 
Hal ini menjadi salah satu alasan kenapa emiten berkode GIAA ini memutuskan menaikkan harga tiket pesawat."Jadi walaupun penuh dari sini (Jakarta) ke Jogja, baliknya kosong. Jadi tingkat keterisiannya 50 persen-60 persen," tambahnya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kenaikan harga tiket, lanjut Ari, juga dipengaruhi harga avtur yang mahal serta kondisi nilai tukar rupiah yang tertekan.
 
"Kalau Garuda saya lahir juga memang tinggi. Jadi kita naik 20 perseb karena tidak tahan dengan harga fuel dan kurs yang melemah. Jadi mau tidak mau harus dinaikan," tuturnya.
 
Sebelumnya, pada kesempatan yang berbeda, Ari memaparkan komponen biaya operasi maskapai didominasi oleh beban fuel sebesar 35-40 persen, diikuti beban sewa pesawat 25-30 persen, biaya bandara 2-10 persen, serta beban SDM atau belanja karyawan sebesar 10-20 persen.
 
Mengutip data Pertamina Aviation, avtur di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang dibanderol seharga USD61,80 sen atau Rp8.920 per liter. Harga ini belum termasuk PPN 10 persen dan pajak penghasilan 0,3 persen.
 
Per barelnya, harga avtur berada di kisaran USD65-USD70. Sementara mata uang Garuda tahun lalu terus keok dan sempat mencapai Rp15.000 per USD. Artinya, beban fuel semakin mencekik kinerja keuangan maskapai. Karenanya, maskapai tidak memiliki pilihan lain selain mencabut diskon harga agar tetap bertahan.
 
Bahkan Ari bilang, maskapai layanan penuh atau full-service yang menjual tiketnya mendekati batas atas saja masih bisa merugi meski memiliki sumber pendapatan lain seperti bagasi dan periklanan. "Begitulah kisah sedih maskapai nasional," pungkas Ari.
 

(SAW)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif