Penjual aksesori di Tanah Abang terimbas penurunan daya beli. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)
Penjual aksesori di Tanah Abang terimbas penurunan daya beli. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

Pedagang Aksesori Tanah Abang Terimbas Penurunan Daya Beli

Ekonomi tanah abang daya beli masyarakat
Desi Angriani • 04 Juni 2019 12:45
Jakarta: Penjualan aksesori di Pasar Tanah Abang, Jakarta, turut terdampak penurunan daya beli masyarakat. Hal ini menyusul keluhan penurunan omzet oleh pedagang pakaian muslim, sarung, sajadah dan mukena di pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara tersebut.
 
Purnomo, 25, pemilik Noufal Accessories, Blok A Tanah Abang, menyebut permintaan aksesori berupa kalung, bross, hiasan kepala, dan hiasan kerudung sepi peminat menjelang Idulfitri 1440 H. Hal itu tampak dari stok aksesori yang masih menumpuk di sembilan toko milik pria asal Jawa Tengah ini.
 
"Selama Ramadan kadang sepi, kadang ramai, enggak melulu ramai di Ramadan. Tapi memang enggak seramai tahun lalu," ujar Purnomo saat ditemui Medcom.id di Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta, Selasa, 4 Juni 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Purnomo menyebut menjelang Lebaran, omzet harian hanya berkisar Rp1 juta dengan perolehan untung terbesar Rp5 juta untuk satu toko. Dalam seminggu, ia bisa meraup Rp30 juta untuk semua toko aksesorinya.
 
Selama Ramadan ini, pernak-pernik kalung menjadi aksesori paling laku yang dijual mulai dari harga Rp10 ribu sampai Rp50 ribu.
 
"Sekitar Rp30 juta seminggu, bross, kalung, hiasan kepala, hiasan kerudung, bross jurai, gesper, dijual dari harga Rp10 ribu sampai Rp50 ribu," ungkapnya.
 
Saat aksi 22 Mei kemarin, Purnomo juga terpaksa menutup sembilan tokonya dengan kerugian puluhan juta rupiah. Ia pun sedikit kebingungan dalam menyisihkan keuntungan penjualan untuk membayar gaji dan Tunjangan Hari Raya (THR) para karyawan.
 
"Aksi 22 Mei kemarin gedung ditutup dua hari dan itu kerugiannya besar. Buat gaji karyawan dan THR," imbuh dia.
 
Pedagang Aksesori Tanah Abang Terimbas Penurunan Daya Beli
Penjual busana muslim di Tanah Abang. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)
 
Adapun omzet penjualan busana muslim di Tanah Abang turun 30 persen menjelang Idulfitri 1440 H. Penurunan terjadi hampir di semua toko pakaian muslim.
 
Anggi, pemilik toko TS Maju Entreprise di Blok A, Tanah Abang, mengaku penjualan baju koko tahun ini rata-rata hanya sebesar Rp5 juta per hari. Biasanya ia bisa meraup untung hingga Rp10 juta per hari.
 
"Rata-rata omzet toko pakaian muslim turun 30 persen dari tahun lalu," ujar Anggi kepada Medcom.id.
 
Jika dibandingkan tahun lalu, Anggi bisa memperoleh omzet hingga Rp450 juta per hari untuk enam toko pakaian muslim yang dimilikinya. Kini, ia hanya menangguk untung sebesar Rp360 juta per hari untuk semua tokonya.
 
Karena penjualan mengalami penurunan, Anggi pun tidak memerlukan stok tambahan. Bahkan, stok baju koko di sejumlah tokonya masih menumpuk sepekan menjelang Lebaran. Rata-rata harga baju koko yang dijual Anggi berkisar antara Rp70 ribu sampai Rp150 ribu.
 
"Stoknya masih banyak sepekan sebelum Lebaran. Dijual dari harga Rp70 ribu dengan harga tertinggi Rp150 ribu tergantung model dan bahan," ungkap dia.
 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif