Ilustrasi. (FOTO: dok MI)
Ilustrasi. (FOTO: dok MI)

Pengusaha Tekstil dan Ban Diuntungkan Perang Dagang

Ekonomi tekstil Perang dagang
Annisa ayu artanti • 07 Juni 2019 13:56
Jakarta: Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan tidak semua dampak perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok berimbas negatif. Bagi beberapa pengusaha di Indonesia, perang dagang justru memberikan keuntungan.
 
Ketua Kadin Rosan P Roeslani mengatakan pengusaha pengekspor tekstil dan ban memperoleh keuntungan akibat perang dagang. Ekspor tekstil ke AS meningkat sampai 30 persen dan permintaan ban dari dalam negeri pun juga naik.
 
"Saya bicara dengan teman-teman asosiasi tekstil misalnya mereka menyatakan ekspornya tahun ini malah naik 25-30 persen, karena barangnya jadi lebih menarik, kompetitif, karena yang di sana kan kena tarif. Perusahaan ban juga menyatakan hal yang sama," jelas Rosan saat open house di kediamannya, Jalan Kemang Timur, Kamis sore, 7 Juni 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rosan juga menjelaskan pengusaha-pengusaha tersebut justru berharap perang dagang bisa berlangsung lebih lama lagi.
 
"Jadi mereka malah bercanda, kalau bisa sih perang dagang ini agak lama. Tapi kan tidak bisa begitu," ujar dia.
 
Menurut Rosan, Indonesia tidak terlalu terdampak perang dagang lantaran masih menjadi bagian kecil dari global value chain. Adapun negara-negara tetangga yang terkena imbas perang dagang adalah Vietnam, Malaysia, dan Thailand.
 
Perang dagang ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Sebab momen seperti ini tidak akan terulang. Negara seperti Indonesia seharusnya menjadikan perang dagang sebagai momen untuk menarik investasi supaya masuk ke Indonesia.
 
Sejauh ini berdasarkan pengamatannya, investor lebih banyak masuk ke negara-negara tetangga seperti Vietnam, Malaysia, Bangladesh, dan Thailand.
 
"Kalau saya lihat di lapangan media asing, kebanyakan investasi yang masuk ke relokasi ini masuk ke nomor satu ke Vietnam, Malaysia, Bangladesh, dan juga Thailand (ASEAN). Kita memang agak kurang," tutur dia.
 
Tensi perang dagang dua negara ekonomi terbesar itu kian memanas. Presiden Amerika Serikat Donald John Trump mengancam akan menaikkan pengenaan tarif retribusi barang-barang Tiongkok hingga USD300 miliar.
 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif