Jiwasraya. Foto: ANT/Galih
Jiwasraya. Foto: ANT/Galih

Risiko Sistemik di Jiwasraya Berbeda dengan Bank

Ekonomi bpk Jiwasraya
Eko Nordiansyah • 10 Januari 2020 19:24
Jakarta: Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyebut ada potensi risiko sistemik pada kasus PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Namun risiko sistemik yang ditimbulkan dari kasus gagal bayar di Jiwasraya disebut akan berbeda dengan yang terjadi pada industri perbankan.
 
Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Isa Rachmatawarta mengatakan kasus gagal bayar di industri asuransi hanya perlu menindaklanjuti polis yang sudah disepakati dengan nasabah. Sementara di perbankan, dana perlu disediakan segera.
 
"Jadi kalau di bank yang penting uang saya balik, di asuransi yang penting polis jalan sampai akhir masa pertanggungan. Di asuransi jiwa punya pertanggungan 15 tahun, idealnya paling baik bagaimana polisnya berjalan sampai akhir masa polis," kata dia di Gedung DJKN, Jakarta Pusat, Jumat, 10 Januari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut dia keberlangsungan polis bisa dilakukan oleh perusahaan sendiri atau dialihkan ke perusahaan lain. Sayangnya untuk kasus Jiwasraya ini, Isa menambakan, produk asuransi JS Saving Plan memiliki perbedaan dari produk asuransi yang biasanya.
 
"Di Jiwasraya ini menarik karena ada jenis produk yang kemudian lebih sarat investasi dibandingkan asuransinya, JS Saving Plan. Dalam satu tahun pertama pemegang polis sudah bisa mem-break polis dan meminta proceed-nya berapa akumulasi dana yang dihasilkan di situ," jelas dia.
 
Saat ini Isa mendukung langkah Kementerian BUMN yang menyiapkan langkah-langkah penyehatan Jiwasraya. Terdapat empat alternatif penyelamatan Jiwasraya.
 
"Tapi yang jelas di bulan ini, saya yakin dari Kementerian BUMN akan sampaikan langkah-langkah solusi lebih detail selain ide menjual anak perusahaan ke investor strategis. Ini yang kayanya dijelaskan oleh Pak Menteri ataupun Wakil Menteri (BUMN)," pungkasnya.
 
Upaya menyelamatkan Jiwasraya dilakukan mulai dari strategic partner yang menghasilkan Rp5 triliun, inisiatif holding asuransi Rp7 triliun, menggunakan skema finansial reasuransi Rp1 triliun, dan sumber dana lain dari pemegang saham Rp19,89 triliun. Jadi, total dana yang dihimpun dari penyelamatan tersebut Rp32,89 triliun.
 

 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif