“Literasi keuangan masyarakat di Singapura sudah mencapai 96 persen, Malaysia 81 persen, Thailand 78 persen. Kita di 21,8 persen,” kata Presiden Joko Widodo (Jokowi), baru-baru ini. Dengan kata lain, literasi keuangan di Indonesia tergolong rendah.
Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun lalu, literasi pasar modal berada paling rendah, yakni hanya 3,79 persen. Sedangkan, perbankan 21,80 persen, dan asuransi 17,84 persen. Tak heran bila Jokowi meminta kementerian dan lembaga terkait melakukan langkah-langkah percepatan guna menindaklanjutinya.
Salah satu upaya meningkatkan literasi pasar modal, Bursa Efek Indonesia (BEI) menyelenggarakan Sekolah Pasar Modal (SPM).
Menurut Direktur Pengembangan BEI Nicky Hogan, sekolah ini memiliki tujuan memberi edukasi mengenai investasi (saham), memberi informasi mengenai mekanisme menjadi investor saham, edukasi soal teori pemilihan saham, meningkatkan pemahaman bahwa investasi saham itu mudah dan terjangkau, serta memberi informasi soal lembaga di pasar modal yang memberi fasilitas dan melindungi investor.
“SPM sudah berjalan bertahun-tahun, konsepnya ada dua tingkat, untuk dasar (basic) dan lanjutan (advance),” kata Nicky Hogan.
SPM terbuka untuk umum dan bisa diselesaikan dalam satu hari. “Masyarakat yang mengikuti SPM diharapkan bisa menjadi investor. Karenanya SPM selalu memiliki mitra yang juga turut mengisi,” ucap Nicky.
Nicky juga menekankan bahwa investasi di saham dan reksadana kini jauh lebih mudah. “Kita berterima kasih kepada teknologi. Kini untuk melakukan perdagangan, bisa dilakukan secara daring (online). Dengan demikian, sekuritas bisa memberi keringanan setoran (kepada investor),” papar Nicky.
Seperti diketahui, setoran awal untuk investasi terbilang mahal. Namun, teknologi berhasil membuatnya menjadi lebih murah karena bisa dilakukan secara daring. Kini, setoran awal cukup dengan Rp100 ribu.
“Bila membicarakan potensi investor, Indonesia punya peluang sangat besar. Semua orang yang punya Rp100 ribu bisa menjadi investor,” kata Nicky.
Investasi di pasar modal jangan melihat konsep spekulatifnya, karena bersifat jangka panjang. Artinya, bila dibandingkan emas dan obligasi, saham menawarkan imbalan yang lebih tinggi, bisa mencapai 15 persen per tahun.
“Orang perlu tahu bahwa investasi akan mengubah pendapatan yang linear menjadi pendapatan eksponensial,” tegasnya.
Berlanjut ke bagian kedua.
Sumber: smart-money.co
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News